Saat Daerah Lain Berkubang Banjir, Jepara Justru Krisis Air

Rhobi Shani    •    Sabtu, 01 Oct 2016 11:25 WIB
kekeringan
Saat Daerah Lain Berkubang Banjir, Jepara Justru Krisis Air
Warga melintasi bendung Wilalung yang kering di Kudus, Jateng, Jumat (24/10/2014). Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

Metrotvnews.com, Jepara: Hujan memang mulai mengguyur Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sejak dua pekan terakhir. Meski begitu, Desa Raguklampitan Kecamatan Batealit, Desa Clering Kecamatan Donorojo, dan Desa Kemujan Kecamatan Karimunjawa, justru masih krisis air.

Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Jamaludin, menyampaikan hingga saat ini sumur-sumur milik warga di sana masih kering. Hujan yang turun belum mampu memantik sumber mata air.

“Kemungkinan karena Raguklampitan terletak di wilayah dataran tinggi. Air hujan belum cukup meresap hingga ke sumber air,” ujar Jamal, Sabtu (1/10/2016).

Hingga saat ini pihaknya masih terus mengirim air bersih untuk warga. Untuk mempermudah proses pengiriman, BPBD meminjamkan beberapa tangki air. Tangki diletakkan secara merata dan tidak terfokus pada satu titik sehingga memudahkan warga yang membutuhkan air bersih.

“Kami akan terus menyalurkan air selama warga membutuhkan,” kata Jamaludin.

Selain Desa Raguklampitan, Jamaludin juga menerima laporan krisis air bersih di Desa Clering. Hanya saja, secara resmi pihaknya belum menerima laporan, sehingga belum dilakukan pengiriman air bersih. “Jika sudah ada permintaan resmi, kami baru mengirim air,” ucap Jamal.

Krisis air bersih juga melanda warga di kepulauan Karimunjawa, yaitu di Desa Kemujan. Untuk mengatasi krisis air di wilayah terluar Kabupaten Jepara ini, semula direncanakan pembuatan sumur dan sistem perpipaan. Rencana itu gagal lantaran anggaran yang diajukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tak dikabulkan.

Waspada Banjir di Desa Dekat Aliran Sungai

Sejumlah desa yang berada di aliran sungai SWD I dan SWD II justru diminta waspada banjir. Saat ini, Pemkab Jepara sudah menyiapkan sejumlah peralatan untuk mengevakuasi korban mulai disiagakan seperti perahu karet. Namun, dari sembilan perahu karet yang dimiliki BPBD Jepara, hanya enam yang siap dioperasikan.


Banjir di Desa Mantingan, Tahunan, Jepara pada Februari 2016. Foto: Metrotvnews.com/Rhobi
 
“Yang tiga harus menjalani perawatan, tapi kami tidak khawatir karena mitra BPBD juga banyak yang memiliki perahu karet,” kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Jepara Pujo Prasetyo.
 
Desa yang rawan banjir antara lain di Kecamatan Nalumsari, Mayong, Welahan, Pecangaan, Tahunan, dan Keling. Di sana, banjir kerap terjadi akibat tanggul jebol dan sungai tidak mampu menampung debit curah hujan. Pendangkalan sungai dan banyaknya permukiman warga diduga sebagai alasan banjir kerap terjadi.


(UWA)