Penggerebekan Pabrik PCC

Buwas: Tak Boleh Lagi Ada Perdebatan PCC Kewenangan Siapa

Pythag Kurniati    •    Senin, 04 Dec 2017 16:30 WIB
obat berbahayapil maut pcc
Buwas: Tak Boleh Lagi Ada Perdebatan PCC Kewenangan Siapa
Kepala BNN Budi Waseso saat memeriksa pabrik pil PCC di Solo, Jawa Tengah. Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati

Solo: Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol Budi Waseso meminta semua pihak bekerja sama memerangi peredaran pil PCC (paracetamol, caffein dan carisoprodol). Ia meminta tidak ada lagi instansi yang memperdebatkan masalah kewenangan.

Kasus di Kepulauan Riau menjadi salah satu contoh. Saat itu BNN dan polisi menemukan 12 ton bahan pembuat pil PCC.

"Pada akhirnya Polri dan BNN tidak bisa menangani 12 ton itu karena kewenangannya Menteri Kesehatan dan BPOM. Sampai hari ini kita tidak tahu nasibnya," beber Buwas di Kota Solo, Senin, 4 Desember 2017.

(Simak: Bahan PCC di Kepri Masih Diuji Laboratorium)

Ia meminta instansi tidak banyak berbicara mengenai kewenangan. Sebab, yang jauh lebih penting, peredaran PCC sangat mengancam generasi penerus bangsa. Temuan BNN dan polisi di sejumlah tempat seperti Kota Solo, Semarang, dan Sukoharjo menjadi contoh bahwa pengedar PCC selama ini masih leluasa.

"Padahal sudah harus clear tidak ada lagi. Karena dinyatakan tidak boleh oleh BPOM dan Menkes," jelas dia.

(Klik: BNN Gerebek Pabrik PCC di Tiga Kota)

Ia mendesak semua pihak bersinergi mengawasi peredaran PCC. Buwas ingin semua pihak mengedepankan tanggung jawab daripada memperdebatkan kewenangan.

"Jangan bicara kewenangan tapi tanggung jawab. Saya justru berterima kasih kalau semua ikut mengawasi, bukan terus saya takut kehilangan kewenangan," urainya.

Seperti diketahui, BNN dan Polda Jawa Tengah menggerebek sejumlah pabrik PCC di Jawa Tengah, Minggu, 3 Desember 2017. Penggerebekan dilakukan di Semarang, Solo, dan Sukoharjo.

Pabrik PCC di Kota Solo itu, lanjut Buwas, telah memproduksi 50 juta pil sejak pertama beroperasi pada Januari 2017. Satu tablet PCC dijual seharga Rp4 ribu hingga Rp5 ribu.

(Baca: Pabrik PCC di Solo Gunakan Teknologi Luar Negeri)

Peredaran pil PCC menjangkau banyak daerah, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Sulawesi, NTB, dan DKI Jakarta. "Jika dikonsumsi, pil ini memiliki efek memabukkan, seperti mayat hidup. Sasarannya generasi-generasi muda," papar dia.

Polisi menciduk delapan orang tersangka yang terlibat dalam operasional pabrik di Kota Solo dan Sukoharjo, Jawa Tengah. Mereka adalah Wildan Adhyastha, Jaja Isworo, Heri Dwimanto, Maryanto, Susilo, Suwardi, dan Abid Khairul. Mereka dikendalikan oleh Sri Anggoro alias Ronggo.

 


(SUR)