Kolom Agama untuk Penghayat di Gunungkidul Segera Disesuaikan

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 10 Nov 2017 15:30 WIB
kepercayaan
Kolom Agama untuk Penghayat di Gunungkidul Segera Disesuaikan
Ilustrasi. Foto: MI/Arya Manggala

Yogyakarta: Sebanyak 404 warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tercatat sebagai penghayat. Kolom agama di KTP dan KK penghayat yang selama ini kosong, segera disesuaikan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pasca putusan Mahkamah Konstitusi.

"Selama ini kolom agama warga penghayat sudah dikosongkan," kata Kepala Disdukcapil Kabupaten Gunungkidul, Eko Subiantoro saat dihubungi pada Jumat, 10 November 2017.

Pengosongan kolom agama di KTP dan Kartu Keluarga ini berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Selain itu, pengosongan kolom agama bagi penghayat juga mendasarkan Peraturan Peemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU Nomor 23 Tahun 2006.

Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 470/1989/MD tanggal 19 Mei 2008 juga menjadi salah satu dasar aturan. Surat edaran ini berisi arahan pelayanan administrasi kependudukan bagi penghayat kepercayaan bagi kepala daerah.

(Klik: Penerbitan Dokumen Data Kependudukan Akan Dibenahi)

Mahkamah Konstitusi memutuskan mengabulkan permohonan uji materi terkait pengosongan kolom agama pada KTP-el yang ditujukan bagi penghayat kepercayaan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri berjanji segera menindaklanjuti putusan tersebut.

"Kemungkinan nanti harus mengubah lagi dengan kolom kepercayaan (di KTP)," ungkap Eko.

Ungkapan Eko tersebut tak lepas dari putusan MK soal UU Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Penganut aliran kepercayaan, dalam putusan MK, memiliki hak untuk mencantumkan kepercayaan mereka.

Eko mengakui UU Administrasi Kependudukan memang harus memberi perlindungan hak bagi kelompok penghayat, misalbya dalam aspek perbikahan. Menurut dia, Disdukcapil Gunungkidul akan mengeluarkan akta pernikahan bagi kelompok penghayat. "Surat akan dikeluarkan setelah menikah," katanya.

(Baca: Penghayat Kepercayaan tak Boleh Lagi Didiskriminasi)

Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB Supriyanto mengatakan aliran kepercayaan sudah ada secara turun temurun. Ia menilai, sudah sepantasnya masyarakat menghormati kepercayaan masing-masing.

"Dengan menghormati akan bisa membawa suasana damai di lingkungan masyarakat," tuturnya.

 


(SUR)