Mudrikah, 10 Tahun Mengabdi di Perbatasan sebagai Bidan Desa

Kuntoro Tayubi    •    Minggu, 12 Nov 2017 14:34 WIB
kesehatan
Mudrikah, 10 Tahun Mengabdi di Perbatasan sebagai Bidan Desa
Mudrikah, Bidan Desa asal Pemalang, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com /Kuntoro Tayubi)

Pekalongan: Bidan desa merupakan tenaga kesehatan yang ditempatkan di suatu desa untuk memudahkan masyarakat dalam menjangkau layanan kesehatan. Namun bagi bidan desa di Desa Yosorejo, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, tugas bidan lebih dari itu.

Hal itu dikatakan salah satu bidan desa setempat, Mudrikah. Menurutnya tugas seorang bidan desa harus disertai pengabdian terhadap masyarakat dan menjadi pendorong serta semangat untuk tetap bertahan di Petungkriyono, yang merupakan salah satu daerah terpencil di Kabupaten Pekalongan.

Mudrikah sudah 10 tahun bertugas di Petungkriyono. Dari pengabdiannya itu, Mudrikah menyimpan banyak kenangan yang tak terlupakan. Salah satunya saat merujuk pasien dari dusun Sawangan Ronggo ke Puskesmas. Di mana saat itu masih memakai tandu yang dibuat dari bambu (dipikul) untuk membawa pasien.

"Berjalan kaki melewati hutan sejauh 7 kilometer. Melewati jalan longsor dan putus ketika akan ke Posyandu, serta sering jatuh saat melakukan perjalanan," katanya saat ditemui di sela-sela tugasnya, Minggu, 12 November 2017. 

Kecamatan Petungkriyono merupakan salah satu wilayah terpencil di Kabupaten Pekalongan. Letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Banjarnegara. Untuk menuju pusat pemerintahan, masyarakat harus menempuh jarak lebih dari 32 kilometer dengan medan jalan yang cukup ekstrem. 

Menjadi bidan desa, kata Mudrikah, memiliki beban kerja yang sangat berat. Di mana seorang bidan desa harus melayani satu desa yang terdiri dari beberapa dusun, dengan lokasi yang jauh antara satu dusun dengan dusun lainnya. Dalam tugasnya, bidan desa harus selalu melakukan konseling dan sosialisasi tentang kesehatan. Serta harus piket di puskesmas selama 24 jam.

"Yang membuat saya sedih adalah ketika disalahkan oleh masyarakat, ketika tidak selalu berada di tempat. Padahal dengan jadwal yang begitu padat, saya juga harus mengurusi keluarga," katanya. 

Namun perjuangan panjangnya mulai memberikan hasil, yaitu dengan semakin banyaknya masyarakat yang peduli dengan kesehatan dan gizi keluarga. Khususnya untuk ibu hamil dan balita. Di mana sebelumnya banyak masyarakat yang berpikir jika melahirkan harus dilakukan sendiri tanpa bantuan tenaga kesehatan. Juga selalu mengabaikan kebutuhan gizi ibu hamil dan balita.

"Kurang lebih sudah 60 persen masyarakat di Petungkriyono tanggap mengenai pentingnya kesehatan. Khususnya dalam pemeriksaan kehamilan dan balita. Dan mulai melibatkan tenaga kesehatan dalam proses persalinan," tandasnya.



(ALB)