Murid Sekolah Bhineka Tunggal Ika Telantar karena Konflik Yayasan

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 17 Jul 2017 18:47 WIB
pendidikan
Murid Sekolah Bhineka Tunggal Ika Telantar karena Konflik Yayasan
Kegiatan siswa-siswi sekolah di bawah Yayasan Bhinneka Tunggal Ika di Ndalem Notoprajan. (MTVN-Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Puluhan siswa sekolah di bawah Yayasan Bhinneka Tunggal Ika (BTI) terpaksa meminjam tempat untuk beraktivitas di hari pertama masuk sekolah, Senin, 17 Juli 2017. Mereka menggunakan kediaman salah satu kerabat Keraton Yogyakarta, KRT Poerbokusumo, di Ndalem Notoprajan, jalan KH Agus Salim, Kota Yogyakarta. 

Di halaman rumah dipakai untuk administrasi dan di bagian pendopo digunakan untuk berkegiatan siswa-siswi. Hingga siang hari, siswa-siswi sekolah tersebut berkegiatan ala kadarnya di Pendopo Ndalem Notoprajan. 

Sekretaris Yayasan BTI, M. Achadi mengatakan kondisi yang menerpa institusinya akibat problem internal yayasan. Ia mengungkapkan, dua orang pemegang kekuasaan yayasan tidak transparan dalam mengelola manajemen dan keuangan. 

"Kami juga menduga juga terjadi maladministrasi dalam mengelola yayasan," ujar Achadi ditemui di Pendopo Ndalem Notoprajan. 

Ia mencontohkan, salah satu ketidakberesan dalam pengelolaan yayasan ini salah satunya akibat keputusan menyewakan lapangan basket untuk umum. Memang, sekolah di Yayasan BTI ini terkenal menghasilkan atlet basket di DIY. 

Namun, lanjut Achadi, uang sewa lapangan itu tidak diketahui perputarannya. Bahkan, dirinya yang masih menjabat sekretaris yayasan tiba-tiba diganti tanpa lebih dulu ada pertemuan dan pemberitahuan. 

"Yayasan sekolah ini memang sudah tua. Sekitar tahun 2000 sempat terpuruk dan sempat bubar," kata dia. 

Setelah sempat bubar, kata dia, sejumlah orang di yayasan mencoba mendirikannya lagi. Tahun 2011 yayasan kembali bubar. Pada 2015, Achadi bersama sejumlah orang berupaya menghidupkan kembali. 

"Tapi kemudian tetap ada problem. Ada maladministrasi dan tidak transparan dalam mengelola keuangan yayasan," kata dia. 

Kepala Sekolah di Yayasan BTI, Retyas Budi Indarwato mengatakan kini siswa di sekolah Yayasan BTI hanya menyisakan puluhan. Di SD, hanya ada 29 siswa, SMP 13 siswa, dan SMA tinggal lima siswa. Sementara, bangunan sekolah mereka di Jalam Kranggan Nomor 11 A Jetis, Kota Yogyakarta, diakuisisi oknum pengurus yayasan. 

"Banyak siswa yang milih pindah ke sekolah lain, ya karena ada masalah yayasan alasannya," ungkap lelaki 50 tahun ini. 

Tak hanya siswa, guru pun banyak yang memilih mundur lantaran tak kuat tekanan konflik. Dari total semula 48 guru, kini hanya tersisa 18 orang. 

"Guru-guru diminta melamar lagi jika ingin bekerja, ini kan aneh. Lalu bangunan sekolah diakuisisi," katanya. 

Retyas mengaku sudah melaporkan problem ini ke ombudsman dan Dinas Pendidikan setempat. Ia berharap, segera ada pertemuan dengan pihak yayasan, guru, dan pemerintah untuk menyelamatkan pendidikan siswa di sekolah tersebut. 

KRT Poerbokusumo mengatakan meminjamkan tempatnya sebagai rasa kemanusiaan. Ia berharap segera ada solusi agar siswa di sekolah di bawah Yayasan BTI bisa tetap belajar dengan layak. 

"Saya harapkan secepatnya ada solusi yang baik. Saya lihat sampai 2-3 hari reaksi yayasan bagaimana. Mudah-mudahan pengurus yayasan bisa menyelesaikan masalah ini," ungkapnya.


(SAN)