Sudah Ditahan, Napi Terorisme Tetap Belum Akui NKRI

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 19 Sep 2017 11:26 WIB
terorisme
Sudah Ditahan, Napi Terorisme Tetap Belum Akui NKRI
Penyerahan Alquran secara simbolis kepada napi terorisme di Lapas Klas II A Wirogunan Yogyakarta, MTVN - Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Tiga narapidana terorisme dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Wirogunan Yogyakarta dalam beberapa bulan terakhir. Meski telah mendapat materi deradikalisasi berulang kali, ketiga narapidana masih menolak mengakui NKRI dan ideologi Pancasila. 

Kepala Lapas Wirogunan, Suherman, mengatakan ketiga narapidana itu yaitu Fahrudin bin Wa'ali, Chatimul Chaosan bin Muhammad Toyib, dan Sali bin Wasiyo. Ketiganya merupakan bagian dari kelompok radikal di Poso dan Kuningan.

Suherman mengatakan Fahrudin menjalani hukuman 4 tahun kurungan. Sisa masa hukumannya masih 2 tahun 4 bulan. Sedangkan Chatimul Chaosan divonis 7 tahun penjara dan sisa tahanan 1 tahun 7 bulan. Adapun Sali bin Wasiyo mendapat vonis 3 tahun. Ia sudah menjalani masa tahanan 1 tahun dan 3 bulan.

Suherman mengaku masih berupaya membangun komunikasi dengan tiga napi terorisme itu. Hingga kini, Chotimul sudah mau salat berjemaah.

"Yang lain belum mau," kata Suherman usai kegiatan deradikalisasi oleh Polda DIY di Lapas Kelas II A Wirogunan, Selasa 19 September 2017. 

Fahrudin, Chatimul, dan Sali menempati kamar khusus. Suherman tak bisa memastikan apakah ketiganya bakal memperoleh keringanan hukuman atau tidak. Jika ingin mendapat keringanan hukuman, kata Suherman, minimal harus mengakui atau berideologi yang sama dengan pemerintah. Namun, mereka masih enggan tanda tangan persetujuan pengakuan NKRI dan Pancasila. 

"Dari ketiganya, Fahrudin yang memenuhi syarat. Tapi ketika disodorkan pengakuan NKRI dan Pancasila, tidak mau tanda tangan. Ini perlu karena tindakan mereka extraordinary crime. Apakah negara kasih pengampunan, sementara ideologinya tak sama. Selama mereka berikrar Pancasila, dipertimbangkan," ujarnya. 

Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Yuli Yanto mengatakan kegiatan deradikalisasi rutin dilakukan. Ia menyebut deradikalisasi bisa dilakukan seminggu dua kali. 

"Tapi bisa juga (kegiatan deradikalisasi) tergantung kebutuhan. Harapannya mereka kembali ke paham yang baik," ujarnya. 

Dalam kegiatan itu, Polda DIY menyerahkan kitab Alquran kepada ketiga napi terorisme. Alquran diberikan secara simbolis oleh Dir Intelkam Polda DIY Kombes Nanang Juni Mawanto kepada Sali. 



(RRN)