Cerita Buruh Tani Mencukupi Kebutuhan Air saat Kemarau

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 22 Sep 2017 13:15 WIB
kemarau dan kekeringan
Cerita Buruh Tani Mencukupi Kebutuhan Air saat Kemarau
Suasana penyaluran bantuan air bersih di Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Musim kemarau yang terjadi sejak Mei 2017 membuat sebagian warga Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, harus berjuang keras memenuhi kebutuhan air. Dari 18 kecamatan, ada 12 kecamatan di Gunungkidul yang mengalami kekurangan air bersih.

Karsiti, 42, warga Dusun Pacungan, Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, punya kisah tersendiri saat melewati musim kemarau kali ini. Sebagai buruh tani, ia harus mengatur penghasilannya yang minim untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Setiap hari, Karsiti menuju ladang saat jam menunjuk angka 07.30 WIB. Ia berangkat menuju ladang milik tetangganya untuk menyiapkan lahan menyambut musim hujan. Dengan upah Rp20 ribu per hari, Karsiti baru pulang pukul 17.00 WIB.

Penghasilan itu ia pakai dan sisihkan untuk belanja dan memenuhi kebutuhan air bersih. Selama lima bulan tak turun hujan, Karsiti sudah membeli enam tangki air bersih.

"Satu tangkinya harga Rp120 ribu," kata Karsiti di Kecamatan Tepus, Gunungkidul, Jumat 22 September 2017.

Karsiti mengaku, harus hemat dan cermat menata keuangan. Hidup bersama dua anggota keluarganya, ia harus bekerja serabutan selain sebagai buruh tani, demi memenuhi kebutuhan hidup.

Selesai menggarap ladang, Karsiti biasa berjualan es keliling kampung. Terkadang itu masih belum cukup, sehingga ia harus mengurangi porsi makan demi bisa membeli air bersih.

Kebutuhan beras, Karsiti cukup mengambil dari sisa panen. Jika kurang, ia biasa mengambil beras untuk rakyat miskin (raskin) atau juga disebut rastra.

Mutini, tetangga Karsiti, juga menjalani hal serupa. Uang penghasilan sebagai buruh serabutan hanya bisa untuk membeli air dari tetangga.

Caranya, ikut memasang selang dari rumah tetangga yang berlangganan PDAM. Air kemudian disalurkan ke rumah Mutini.

"Belinya habis Rp70 ribu. Tapi tidak terus-terusan, kadang-kadang saja beli air dari tetangga," katanya.

Menurut Mutini, ada telaga yang bisa dipakai warga untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Namun, telaga tersebut kering saat kemarau.

"Belum ada bantuan dari pemerintah," kata dia.

Kepala Seksi Pelayanan Desa Tepus Salip Sasmito mengatakan, ada 2.369 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan di musim kemarau ini. Dari jumlah itu, 912 KK masuk kategori keluarga kurang mampu.

"Jumlah warga terdampak kemarau ada di 20 dusun. Sebagian warga tak mampu menjual tabungan ternak sampai perhiasan buat beli air," kata dia.

Sasmito mengaku, sedang berusaha memasang saluran air bersih di desanya. Ia juga mengajukan bantuan ke pihak swasta. Bantuan itu dikhususkan bagi keluarga kategori tak mampu.

Terpisah, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sutaryono mengatakan, ada banyak bantuan air bersih ke wilayah terdampak kemarau. Menurut pendataannya, ada 1.500 tangki air bersih yang sudah disalurkan lewat BPBD maupun langsung ke wilayah terdampak kekeringan.

Hingga kini, tambahnya, ada 12 kecamatan yang mengalami kekeringan dari total 18 kecamatan. Wilayah terdampak kekeringan itu terus diupayakan mendapat bantuan air.

"Cukup banyak masyarakat maupun instansi yang membantu menyalurkan air bersih. Kita hampir saban hari koordinasikan bantuan air berasih," ucapnya.


(NIN)