Perlu Pengetatan Kebijakan Menekan Sampah Plastik

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 04 Dec 2018 20:05 WIB
sampahlingkungan hidupsampah menumpuk
Perlu Pengetatan Kebijakan Menekan Sampah Plastik
ilustrasi Medcom.id

Yogyakarta: Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Halik Sandera mengatakan pemerintah perlu memperketat dan menegakkan aturan untuk menekan sampah plastik. Selain sampah ini sulit terurai, keberadaannya yang bisa sampai lautan bisa merusak ekosistem lain. 

Menurut dia, pemerintah sudah memiliki sejumlah kebijakan untuk menekan sampah plastik. Misalnya, ada Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, yaitu jumlah pengurangan sampah plastik 30 persen pada 2025. Lalu, ada sistem plastik berbayar saat berbelanja di swalayan dan ini tak berjalan di sejumlah lokasi. 

"Aturan-aturan yang ada saya kira perlu ada pengetatan. Pemerintah daerah saya kira perlu juga terlibat dalam membuat aturan penguat," ujarnya. 

Sampah plastik hingga kini masih salah satu problem yang kerap bertebaran di sungai. Catatan Walhi Yogyakarta, hampir seluruh air sungai di kota pelajar ini telah tercemar. 

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Yogyakarta pernah merilis volume sampah secara umum dalam sehari bisa mencapai 300 ton. Situasi tak jauh beda juga berlaku di wilayah Kota Yogyakarta. Hanya di dua wilayah itu bisa menghasilkan lebih dari 200 ribu ton sampah dalam setahun. 

Menurut Halik, salah satu masalah banyaknya sampah plastik di sungai yakni rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Meskipun, kelompok masyarakat yang fokus dalam mengelola sampah juga ikut berkembang. 

Halik menyoroti harus adanya ketegasan dalam menekan perusahaan dalam melakukan promosi produk yang banyak mengahasilkan sampah plastik. Perusahaan harus ikut terlibat dan bertanggung jawab atas produknya yang didistribusikan ke konsumen. 

"Masyarakat saya kira juga perlu mengurangi belanja produk jumlah kecil yang menghasilkan banyak sampah plastik. Mungkin perlu juga memboikot produk yang menghasilkan banyak sampah plastik," ujarnya. 

Ia menegaskan dampak banyaknya sampah plastik dari darat ke laut bisa merusak ikosistem. Kabar terbaru menyebutkan adanya ikan paus mati yang perutnya berisi berbagai jenis sampah, salah satu hal plastik. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Yogyakarta, Suyana mengatakan lembaganya sudah memberikan edukasi di sejumlah lapisan masyarakat. Meskipun, upaya itu masih terbatas. 

Ia mengaku tak bisa langsung mengontrol polah masyarakat yang membuang sampah sembarangan. "Tak ada yang mau ngaku siapa yang buang sampah sembarangan. Masyarakat saya kira harus lebih peduli dan sadar pada lingkungannya," ucap Suyana. 




(ALB)