Status Kawah Sileri di Dieng Waspada

Media Indonesia    •    Jumat, 15 Sep 2017 11:26 WIB
gunung berapi
Status Kawah Sileri di Dieng Waspada
Petugas memeriksa kondisi di sekitar kawah Sileri pasca letusan Freatik di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jateng -- ANT/Anis Efizudin

Metrotvnews.com, Purwokerto: Status Kawah Sileri di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, naik dari normal (level I) menjadi waspada (level II).

"Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Kawah Sileri sejak pukul 23.00 WIB pada Kamis 14 September 2017," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Surip, Jumat 15 September 2017.

Sehubungan dengan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di Kawah Sileri, PVMBG merekomendasikan masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati Kawah Sileri pada jarak 1.000 meter dari bibir kawah. Bagi masyarakat yang berada di dalam radius 1 kilometer dari bibir Kawah Sileri, yakni warga yang bermukim di Dusun Sekalam dan Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, agar diungsikan sementara ke tempat yang aman.

Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang, karena adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan. PVMBG mengingatkan warga agar waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari 1 meter, karena dari tempat tersebut masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S.

"Masyarakat supaya tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu terkait dengan aktivitas Gunung Api Dieng dan agar selalu mengikuti arahan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah," tegas Surip.

(Baca: Kawah Sileri Paling Bahaya di Dieng)

Surip mengatakan objek wisata lainnya di Dataran Tinggi Dieng tetap aman dikunjungi wisatawan karena peningkatan aktivitas hanya di Kawah Sileri. Selain itu, Kawah Timbang bukan merupakan daerah tujuan wisata dan lokasinya jauh dari Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng.

Surip mengatakan, dari periode Juni 2017 hingga 14 September 2017, umumnya cuaca di sekitar Kawah Sileri cerah-mendung hingga hujan, dengan curah hujan maksimal 88,9 milimeter. Selain itu, angin bertiup lemah hingga kencang dari arah selatan, timur, barat, dan utara.

Asap Kawah Sileri bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Tinggi asap maksimum 10 meter, serta tidak tampak adanya aliran gas dari Kawah Timbang.

Sementara, pukul 11.54 WIB pada 2 Juli 2017, teramati erupsi freatik, asap putih tebal dengan tinggi kurang lebih 150 meter. Tekanan asap cukup kuat.

"Dari sisi pengamatan kegempaan, sejak Juni 2017 hingga 14 September 2017 pukul 22.30 WIB, terekam 24 kali gempa tektonik jauh, 173 kali gempa tektonik lokal, 51 kali gempa vulkanik dalam, 10 kali gempa vulkanik dangkal, 12 kali gempa tornillo, 485 kali gempa embusan, satu kali gempa letusan, serta gempa tremor menerus," rinci Surip.

(Baca: Badan Geologi Mencatat Kawah Sileri Sudah Tiga Kali Meletus)

Surip menuturkan, dalam pengukuran suhu air Kawah Sileri pada 8 Juli-14 September 2017 menunjukkan peningkatan dari 90,7 derajat Celcius menjadi 93,5 derajat Celcius. Suhu tanah di Kawah Sileri juga menunjukkan peningkatan dari 58,6 derajat Celcius menjadi 69,4 derajat Celcius.

Menurut Surip, pengukuran suhu Kawah Timbang pada 25 Mei-13 September 2017 juga menunjukkan peningkatan dari rata-rata 57,3 derajat Celcius menjadi 62,7 derajat Celcius. Sedangkan, suhu tanah di Kawah Timbang pada 1 Juni 2017-13 September 2017 menunjukkan tren menurun, yaitu 18,6 derajat Celcius menjadi 17,2 derajat Celcius.

"Konsentrasi gas CO2 di Kawah Timbang sejak 25 Mei 2017 sampai 13 September 2017 berkisar antara 0,22 persen hingga 0,24 persen dan tidak menunjukkan adanya peningkatan," kata Surip.

Surip menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi, suhu dan konsentrasi gas CO2 di Kawah Timbang cenderung normal. Sedangkan, suhu di Kawah Sileri cenderung terus meningkat sejak 8 Juli 2017.

Selain itu, lanjut Surip, hasil pemantauan kegempaan sejak Januari 2017 hingga 13 September 2017, jumlah gempa fluktuatif. Namun, pada 13-14 September 2017, terjadi tremor menerus dengan amplituda 0,3-1 milimeter, dominan 0,5 milimeter.

"Potensi bahaya yang ditimbulkan akibat meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Api Dieng terutama adalah terjadinya erupsi freatik, hujan lumpur, lontaran material di Kawah Sileri, dan meningkatnya konsentrasi gas-gas vulkanik serta aliran gas CO2 konsentrasi tinggi dan berbahaya di Kawah Timbang," tutupnya.


(NIN)