Curah Hujan Tinggi Buat Petani Cabai di Pemalang Merugi

Kuntoro Tayubi    •    Kamis, 23 Nov 2017 18:41 WIB
pangancuaca ekstrem
Curah Hujan Tinggi Buat Petani Cabai di Pemalang Merugi
Petani sedang memanen cabai di Pemalang, Jawa Tengah. Foto: Metrotvnews.com / Kuntoro Tayubi

Pemalang: Hujan bercurah tinggi mengguyur wilayah lereng Gunung Slamet. Petani cabai di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, merugi karena tanaman rusak dan mati.

Sumarmo, petani cabai di Desa Pagenteran mengaku hasil panen menurun drastis hingga 70 persen. Jika kondisi normal, dalam satu hektar lahan mampu menghasilkan cabai hingga 20 ton. Namun saat ini hanya menghasilkan sekitar 5 ton saja.

"Walapaun saat ini harga cabai merah kriting naik mencapai Rp 30 ribu/kg, tapi saya tidak bisa menikmati keuntungannya. Tanamannya banyak yang mati, kalaupun panen, hasilnya tidak bagus,” ujarnya, Kamis, 23 November 2017.

Satu hektar lahan ditanami sekitar 20 ribu pohon cabai. Satu pohon bisa menghasilkan sekitar satu kilogrm cabai, namun saat ini hanya bisa menghasilkan sekitar 3-4 ons cabai.

“Biaya produksinya saja mahal. Satu hektar lahan, modalnya sekitar Rp100-150 juta. Tapi kalau dijual cuma bisa kembali modal, hitungannya tetap rugi,” tambahnya.

Petani cabai lain di Desa Clekatakan, Sutrisno, juga mengungkapkan hal yang sama. Ia mengalami kerugian hingga 40 persen. Tanaman cabainya, tidak bisa berproduksi dengan maksimal karena sering diguyur hujan.

“Normalnya bisa sampai 20 ton per hektar, tapi sekarang cuma 10 ton saja. Apalagi saat ini harga cabai rawit turun drastis, hanya Rp7.500-8.000/kg dari harga semula Rp25 ribu/kg. Jadi tidak bisa menutup biaya produksi,” keluh Sutrisno.

Menurutnya, biaya produksi dalam satu hektar lahan mencapai Rp120 juta. Dengan harga cabai Rp7.500-8000/kg, ia mengaku merugi hingga Rp40 juta/hektar.

“Kalau dulu hasilnya bisa sampai satu kg/pohon, sekarang cuma 500 g/pohon. Apalagi hasil cabainya tidak bagus, minat pembeli berkurang, makanya tetap rugi,” pungkasnya.


(SUR)