375 Anak di Bawah Umur Menikah Tiap Hari di Indonesia

Mustholih    •    Senin, 20 Nov 2017 12:21 WIB
pernikahan
375 Anak di Bawah Umur Menikah Tiap Hari di Indonesia
Ilustrasi. MTVN/M Rizal

Metrotvnews.com, Semarang: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyatakan Indonesia berstatus darurat perkawinan anak. Setiap hari, sebanyak 375 anak perempuan Indonesia di bawah usia 18 tahun dipaksa menikah dini karena faktor desakan ekonomi.

"Isu perkawinan anak ini sudah darurat nasional. Satu dari sembilan anak perempuan menikah di bawah 18 tahun atau dengan kata lain sekitar 375 anak perempuan dipaksa menikah setiap harinya," kata Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lenny N Rosalin di Semarang, Jawa Tengah, Senin, 20 November 2017.

Selain akibat desakan ekonomi, faktor pendidikan dan budaya juga turut memberi andil. Menurut Lenny, orang tua biasanya merasa malu bila anak perempuannya terlambat menikah karena takut menjadi perawan tua dan tidak laku.

"Faktor kemiskinan pun menjadi latar belakang yang kuat. Banyak orangtua yang menganggap apabila anak perempuannya segera dinikahkan dapat membantu ekonomi keluarga," ujar Lenny menegaskan.

Isu perkawinan anak harus diperangi bersama-sama. Masyarakat harus diberi kesadaran bahwa perkawinan anak merupakan bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pelanggaran hak anak dalam menikmati kualitas hidup yang baik, sehat, serta tumbuh berkembang.

"Kami ingin ini menjadi gerakan bersama. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mencantumkan batas usia minimal perkawinan perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 19 tahun harus direvisi," tegas Lenny.


Wakil Gubernur Jawa Tengah, Heru Sudjatmoko (paling kiri) turut berkampanye 'Stop Perkawinan Anak' di Semarang, Jawa Tengah. Foto: Metrotvnews.com / Mustholih


Di Jawa Tengah, kasus perkawinan anak juga termasuk yang tertinggi. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat temuan 3.876 perkawinan anak terjadi di Jawa Tengah pada tahun 2016.

Tingginya angka perkawinan anak berdampak pada meningkatnya angka kematian bayi di Jateng. "Tercatat 358 kasus kematian dalam 100.000 kelahiran bayi," jelas Lenny.

Menurut Lenny, Kabupaten Brebes, Grobogan, Demak, dan Magelang, menjadi daerah di Jateng yang tinggi dalam kasus perkawinan anak. “Padahal, perkawinan anak perempuan usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar untuk meninggal dalam kasus kehamilan dan persalinan dibanding usia 20-24 tahun," ungkap Lenny.




 


(SUR)