Ribuan Nelayan Cantrang Terancam Kehilangan Pekerjaan

Kuntoro Tayubi    •    Sabtu, 30 Dec 2017 11:58 WIB
nelayan
Ribuan Nelayan Cantrang Terancam Kehilangan Pekerjaan
Perahu nelayan berlabuh di Pelabuhan Kluwut, Brebes, Jawa Tengah. (Medcom.id/Kuntoro Tayubi)

Brebes: Ribuan nelayan cantrang di Pelabuhan Kluwut Brebes, Jawa Tengah, mulai cemas seiring berakhirnya perpanjangan ijin alat tangkap cantrang oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 31 desember besok. Tak hanya terancam kehilangan pekerjaan, mereka juga terbelit utang rentenir. 

Aktifitas bongkar muat hasil perikanan di pelabuhan Kluwut Sabtu, 30 Desember 2017, nampak sepi. Dari 250 kapal cantrang yang beroperasi, kini hanya tersisa 150 kapal berbobot dibawah 30 gross ton.

Sepinya aktifitas di tempat pelelangan ikan terjadi karena sebagian nelayan cantrang telah berhenti melaut seiring berakhirnya perpanjangan ijin alat tangkap cantrang. Untuk kehidupan sehari-hari, tradisi mereka berutang pada rentenir setempat.

Baca: NasDem Berencana Bahas Masalah Cantrang dengan Menteri Susi

Nelayan cantrang, Sukad, mengaku jika melaut saat ini maka dengan waktu berlayar mencapai 25 hari mereka akan berurusan dengan patroli angkatan laut dan patroli kapal KKP sepulangnya melaut.

“Karena melebihi ijin operasi 31 Desember. Jelas kami terancam kehilangan pekerjaan dan dipastikan banyak nelayan terbelit utang yang mereka pinjam untuk kebutuhan hidup sehari hari mereka,” katanya cemas.

Ketua Paguyuban Nelayan Maju Jaya Kluwut Bulakamba Kabupaten Brebes Damir mengatakan, larangan operasi kapal cantrang sangat berdampak bagi nelayan cantrang. Semua nelayan di pelabuhan kluwut mengandalkan alat tangkap cantrang secara turun-temurun sejak puluhan tahun silam.

Sejumlah pemilik kapal bahkan telah menjual kapalnya karena tidak memiliki lagi dana untuk membeli alat tangkap Jilnet yang disarankan Kementerian Kelautan dan Perikanan. 

“Untuk mengganti alat tangkap cantrang ke Jilnet  dan memodifikasi kapal, pemilik kapal membutuhkan dana milyaran rupiah,” ungkap Damir.

Nelayan masih meyakini, alat tangkap cantrang tidak merusak ekosistem bawah laut, karena mereka tidak beroperasi di daerah karang laut. Saat ini lebih dari 3.000 nelayan di Pelabuhan Kluwut hanya bisa pasrah jika harus kehilangan pekerjaan. 

“Namun mereka masih berharap larangan alat tangkap cantrang tidak berlaku bagi kapal dengan bobot di bawah 30 gross ton,” pungkasnya.


(ALB)