Kartu Tani, Kado Awal Tahun bagi Petani Jawa Tengah

Mustholih    •    Kamis, 28 Dec 2017 18:14 WIB
pangan
Kartu Tani, Kado Awal Tahun bagi Petani Jawa Tengah
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Foto: Antara/Ismar Patrizki

Semarang: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengaktivasi Kartu Tani serentak di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah pada 1 Januari 2018. Kado awal tahun ini dapat dimanfaatkan Jutaan petani untuk membeli pupuk bersubsidi dari Pemprov Jateng ke pengecer yang ditentukan.

"Selama 2017, Kartu Tani di beberapa kabupaten sudah berjalan, termasuk uji coba di Batang. 2018 akan diberlakukan secara serentak di 35 Kabupaten atau Kota di Jateng," kata Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Semarang, Kamis, 28 Desember 2017.

Berdasarkan data Pemprov Jawa Tengah, jumlah petani di 35 kabupaten/kota tercatat mencapai 2,57 juta dengan lahan garapan seluas 1,38 juta hektare. Apabila program Kartu Tani ini berjalan, informasi seputar pertanian di Jateng bakal terdata rapih sampai ke identitas petani, alamat, dan luas lahan.

"Setelah pembagian Kartu Tani, kita akan naik kelas. Nanti kita overlay dengan sistem aplikasi, sehingga setiap hari dapat memantau petani menanam apa, kapan, di mana. Setiap petani menancapkan komoditasnya melaporkan pada kami," tegas Ganjar.

Dengan sistem berbasis daring, Pemprov Jateng dapat memantau dan mengetahui kebutuhan pupuk petani. Sehingga, pabrik, distributor, dan pengecer mampu menyiapkan kebutuhan dan bisa mengontrol pupuk bagi petani sampai masa panen.

"Tidak terkecuali mengecek pemenuhan hasil produksi, sesuai target atau tidak. Termasuk komoditas akan kita panen, seperti kentang, padi, cabai. Kalau potensi hasil panen gede, Pemda akan membantu mencari pasar, bisa masuk ke industri maupun ekspor,” ungkap Politikus PDI Perjuangan ini.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jateng, Prijo Anggoro menambahkan, saat ini Pemprov Jateng sedang mempersiapkan kebutuhan teknis jelang peluncuran Kartu Tani. Sejumlah kendala yang ditemui. Antara lain petani yang terdata tidak dapat ditemui, pengecer belum mau melayani menggunakan mesin Electronic Data Capture, sumber daya manusia pengecer masih kurang, dan adanya mesin yang belum terpasang di tingkat pengecer pupuk.

“Penebusan pupuk bersubsidi menggunakan Kartu Tani telah dilakukan di beberapa kabupaten, namun masih menghadapi beberapa kendala,” ujar Prijo.


(SUR)