1,4 Juta Jiwa di Jateng Rentan Terdampak Kekeringan

Pythag Kurniati    •    Kamis, 10 Aug 2017 17:05 WIB
kemarau dan kekeringan
1,4 Juta Jiwa di Jateng Rentan Terdampak Kekeringan
Ilustrasi Metrotvnews.com

Metrotvnews.com, Solo: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, Indonesia tengah mengalami fenomena kemarau basah. Berdasarkan perkiraan, kemarau basah berlangsung dari bulan Juli hingga Oktober.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah memprediksi, sekitar 1,4 juta jiwa warga di Jateng rentan terdampak kekeringan. Hal tersebut sebagai imbas kemarau basah.

"Berdasarkan pemetaan kami saat rakor ada 1,4 juta jiwa di Jateng yang rentan terdampak kekeringan," ungkap Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) BPBD Jateng Sarwa Pramana, Kamis, 10 Agustus 2017.

Bila dibandingkan jumlah total warga Jawa Tengah yang berjumlah sekitar 35 juta jiwa, Sarwa melanjutkan, artinya ada 4 persen warga Jawa Tengah yang rentan terdampak. "Tapi itu masih merupakan prediksi kami. Belum tentu semuanya terdampak," kata dia.

1,4 juta jiwa tersebut, kata Sarwa, tergabung pada kurang lebih 404 ribu Kepala Keluarga (KK). Mereka tersebar di kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Merujuk data BPBD Jateng, jumlah warga yang rentan terdampak kekeringan paling banyak terdapat di Kabupaten Demak, Blora dan Boyolali.



Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) BPBD Jateng Sarwa Pramana. --MTVN/Pythag--

Berdasarkan data yang sama, BPBD Jateng mencatat ada 266 kecamatan dan 1.235 desa di Jawa Tengah yang rentan mengalami kekeringan. Dari jumlah tersebut, ada 10 kabupaten yang saat ini telah melakukan droping air bersih, meliputi 22 kecamatan dan  46 desa.  

"Untuk droping air bersih, Pemprov Jateng menyediakan anggaran Rp 600 juta," kata dia. Masing-masing kabupaten kota tersebut mendapat alokasi sekitar 200 hingga 250 tangki air bersih.

Mengenai ancaman kekeringan yang berimbas pada irigasi, Sarwa mengimbau masyarakat beralih dari tanaman padi ke palawija selama kemarau. "Sebenarnya embung yang ada cukup dan aman untuk masa panen. Namun ada baiknya masyarakat memilih tanaman dengan menyesuaikan musim," ujarnya.


(ALB)