Kelompok Golput pada Pemilu 2019 Diprediksi Bertambah

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 18 Dec 2018 17:04 WIB
pilpres 2019
Kelompok Golput pada Pemilu 2019 Diprediksi Bertambah
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Yogyakarta: Kelompok golongan putih (golput) diperkirakan akan bertambah pada pemilu 2019. Kelompok golput tersebut berasal dari yang lama dan yang baru.

Kepala Departemen Politik HICON Law and Policy Strategic, lembaga riset hukum dan kebijakan publik, Puguh Windrawan mengatakan, lembaganya melakukan riset sejak September hingga awal Desember 2018. Ia memperkirakan presentase golput tak jauh beda dengan pemilu 2014. 

"Dari pemilu sebelumnya, kira-kira tidak jauh berbeda. Kemungkinan masih 29-30 persen. Tidak jauh beda dari itu," kata Puguh di salah satu kafe di Jalan Perumnas Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, 18 Desember 2018.

Puguh mengklasifikasikan, kelompok golput ke dalam dua hal, yakni administratif dan ideologis. Kelompok golput administratif ini akibat belum atau tidak terdaftar dalam administrasi kependudukan.

Sementara, kelompok golput ideologis ini didasarkan pada kekecewaan kebijakan petahana dan catatan buruk calon presiden nomor urut 02. Pegiat hak asasi manusia (HAM), kata Puguh, kecewa pada kebijakan Presiden Joko Widodo yang tak kunjung menuntaskan berbagai kasus.

Selain itu, ada pegiat gender yang melihat visi dan misi keduanya pasangan calon belum memihak kesejahteraan perempuan. "Pegiat HAM yang kecewa kebijakan Jokowi dan tak mungkin memilih Prabowo juga," kata dosen Universitas Proklamasi 1945 Yogyakarta tersebut.

Pemilu 2019 diprediksi bakal lebih bersifat dinamis. Kelompok golput yang tak begitu besar diperkirakan kurang jadi perhatian. Kedua pasangan calon presiden-wakil presiden akan terus berupaya meningkatkan kuantitasnya pemilih dalam proses kampanye. 

Proses kampanye sesungguhnya akan berlangsung pada Januari hingga Maret 2019. Pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, yang sela ini agresif akan diimbangi pesaingnya. 

Menurut Puguh, pasangan Prabowo-Sandi memiliki tim kampanye yang militan. Tim kampanye tersebut setidaknya berhasil memopulerkan Prabowo-Sandi di media sosial. Namun, Prabowo acap kali menggunakan diksi yang menimbulkan kontroversi saat kampanye. 

Puguh menambahkan, Jokowi-Ma'ruf selama ini lebih dikenal memiliki figur dikenal masyarakat bawah. "Keunggulan tak bisa dipunyai pasangan lawan. KH Ma'ruf Amin ini juga diperkirakan akan bisa membantu Jokowi dengan pengalamannya merangkul kelompok islam tradisional dan moderat," pungkas Puguh.


(DEN)