Nyaris Separuh Mata Air di Soloraya Lenyap

Pythag Kurniati    •    Rabu, 16 Aug 2017 19:57 WIB
krisis air
Nyaris Separuh Mata Air di Soloraya Lenyap
Jumpa pers hasil riset Tim Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) di Kantor BPPTPDAS. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Sukoharjo: Jumlah mata air di kawasan Kota Solo dan kabupaten sekitarnya atau Soloraya hilang kurang lebih 47 persen dalam kurun waktu 10 tahun. Dari semula 421 titik pada 2006 hanya tinggal 223 titik pada 2016. Kabupaten Wonogiri paling berkontribusi atas turunnya jumlah mata air ini.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Air Sungai Nur Sumedi mengatakan rata-rata setiap tahun, ada 20 mata air yang menghilang.

Kabupaten Wonogiri menjadi wilayah terjadinya penurunan jumlah mata air paling banyak. “Tepatnya di Lereng Lawu Selatan,” tutur Nur Sumedi di kantornya, Rabu, 16 Agustus 2017. Disusul Kabupaten Karanganyar serta Kabupaten Boyolali (Lereng Gunung Merapi).

Nur menegaskan perlu upaya pelestarian mata air agar penurunan kualitas dan kuantitas mata air tidak berlanjut.

Tim riset BPPTPDAS, lanjut Nur, telah melakukan kajian di berbagai mata air yang ada. Hasil kajian memunculkan adanya 15 jenis pohon yang memiliki fungsi sebagai pelindung mata air.

Anggota tim riset BPPTPDAS Dody Yuliantoro menjelaskan, 15 jenis pohon tersebut yakni pohon aren, gayam, kedawung, trembesi, beringin, elo, preh, bulu, benda, kepuh, randu, jambu air, jambu alas, bambu dan picung.

“Pohon-pohon tersebut akan membantu menjaga mata air. Karena selama ini hanya 20 persen air hujan yang dapat terserap ke tanah,” paparnya.

Ia mengajak, masyarakat serta pemerintah daerah memiliki kesadaran menghidupkan kembali mata air yang mati maupun menjaga mata air yang masih ada. 

“Menghidupkan mata air yang mati setidaknya butuh 15 tahun. Maka mata air yang ada harus benar-benar dijaga, salah satunya dengan menanam pohon-pohon tersebut,” pungkasnya.


(SAN)