Pembangunan Masif di Sleman Picu Banjir dan Longsor

Patricia Vicka    •    Rabu, 16 Nov 2016 14:07 WIB
banjir
Pembangunan Masif di Sleman Picu Banjir dan Longsor
Dua truk pengangkut pasir mengangkut pasir di kaki tebing kawasan kali gandol, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Senin (21/12/2009). Foto: Antara/Wahyu Putro A.

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Perubahan alih fungsi lahan besar-besaran di utara DIY menjadi penyebab utama terjadinya banjir dan longsor yang melanda Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman beberapa waktu lalu. 

Daerah utara Kabupaten Sleman yang seharusnya menjadi daerah resapan air hujan, kini berubah menjadi pusat pendidikan yang padat permukiman, apartemen, dan hotel. 

Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) UGM, Bambang Hudayana, mengatakan pembangunan besar-besaran Kabupaten Sleman telah mengganggu keseimbangan ekosistem. 

"Puluhan kampus sekarang dibangun di Sleman. Orang berbondong-bondong bangun rumah di Sleman. Keseimbangan ekologis rusak dan membuat banjir di Kota Yogyakarta," jelas Bambang melalui sambungan telepon, di Yogyakarta, Rabu (16/11/2016).

Baca: Rawan Bencana, Warga Yogya Diminta Siaga

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah desa perlu membuat rencana dan strategi tata ruang perdesaan yang menyesuaikan kearifan lokal sebelum menentukan rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang. Pembangunan desa harus sesuai rencana tata ruang.

Pemerintah Kabupaten Sleman seharusnya mengeluarkan peraturan yang mewajibkan setiap desa membuat rencana dan strategi tata ruang. Masyarakat pun perlu dilibatkan untuk menjaga dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang itu. 

"Dalam rencana tata ruang dipisahkan mana daerah yang jadi permukiman, mana daerah bercocok tanam, dan mana resapan air," kata Bambang.

Pekan lalu, hujan lebat mengguyur DIY dan menimbulkan longsor kecil di beberapa bantaran sungai di Kota Yogyakarta dan Sleman. Akibatnya, beberapa jembatan rusak dan rumah di dua RT di Sleman terendam banjir.




(UWA)