Pekalongan Bebas Difteri karena Program Imunisasi

Kuntoro Tayubi    •    Senin, 11 Dec 2017 10:52 WIB
klb difteri
Pekalongan Bebas Difteri karena Program Imunisasi
Seorang tenaga medis memberikan imunisasi difteri tetanus (Dt). Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto

Pekalongan: Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, memastikan wilayahnya bebas dari wabah penyakit difteri. Namun, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penularan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae tersebut.

"Kita semua beharap jangan sampai di Kota Pekalongan ada yang kena difteri. Sebab kalau ada satu yang sudah kena, akan cepat menyebar ke yang lain," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Pekalongan, Tuti Widayanti, saat dihubungi, Senin, 10 Desember 2017.

Tuti menerangkan, difteri dapat mewabah dan menyerang dengan mudah. Terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin atau tidak diimunisasi difteri. Karena itu, pencegahan difteri harus dilakukan sejak dini dengan program imunisasi.

(Baca: 66 Persen Kasus KLB Difteri Tidak Diimunisasi)

Setiap bayi sampai umur 1 bulan, harus dapat imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus). Kemudian progran dilanjtukan imunisasi DPT 1, DPT 2, dan DPT 3.

Kemudian akan dilanjutkan dengan 'booster' imunisasi ulangan difteri pada saat berusia 18 bulan. Selanjutnya, saat masuk kelas 1 SD, akan dapat lagi imunisasi Dt.

"Itu semua sebagai pencegahan. Dari kasus yang terjadi, setelah ditelusuri ternyata penderitanya memang belum diimunisasi secara lengkap. Satu ada yang kena, akibatnya menyebar kemana-mana," paparnya.


Seorang pelajar kelas satu sekolah dasar mendapat suntikan imunisasi Diphtheria (Dt). Foto: Antara/Saptono

Untuk Kota Pekalongan sendiri, imbuh Tuti, telah melakukan upaya-upaya pencegahan, antara lain dengan pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) secara rutin. Misalnya pada bulan November lalu, melaksanakan imunisasi Dt (difteri tetanus) untuk siswa kelas 1 SD di sekolah-sekolah.

"Sekarang kita 'ngoprak-oprak' orangtua yang punya bayi yang belum diimunisasi supaya datang ke tempat pelayanan kesehatan atau puskesmas setempat agar bayinya diimunisasi. Nanti ketika sufah berusia 18 bulan juga harus diberi imunisasi ulangan DPT," tandasnya.

Diakuinya meski program imunisasi sudah gencar dilaksanakan, namun masih ada warga yang belum memanfaatkannya. Disebutkan bahwa cakupan balita yang sudah mendapat imunisasi lengkap diperkirakan mencapai 95 persen.

"Sehingga masih ada lima persen yang belum tercakup. Ini yang masih menjadi ganjalan kita," tambahnya.

(Baca: Dua Kasus Difteri Jateng Serang Balita)

Data Kementrian Kesehatan sampai November 2017 menunjukkan 95 kabupaten dari 20 provinsi yang terdampak difteri dengan total 400 kasus. Beberapa penderita meninggal dunia. Misalnya, di DKI Jakarta ada 22 kasus dilaporkan.

Di Jawa Barat terdapat 123 kasus dengan 13 kematian yang tersebar di 18 kabupaten/kota. Kasus terbanyak ada di Purwakarta dengan 27 kasus disusul Karawang dengan 14 kasus.

Sementara di Banten terdapat 63 kasus dengan 9 kematian. Sampai sekarang ada 3 orang dirawat di RSUD Kabupaten Tangerang, 2 pasien dari Kota Tangerang dan 1 orang dari Depok.

 


(SUR)