Sewa Diputus Sepihak, Kebaktian Nasional Reformasi 500 Dibatalkan

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 20 Oct 2017 18:17 WIB
Sewa Diputus Sepihak, Kebaktian Nasional Reformasi 500 Dibatalkan
Pintu masuk Stadion Kridosono, tempat yang rencananya jadi tempat Kebaktian Nasional Reformasi 500. Foto: MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Kebaktian Nasional Reformasi 500 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, batal . diselenggarakan pada Jumat 20 Oktober 2017. Hal ini terjadi akibat sewa tempat dibatalkan sepihak oleh pengelola, PT Anindya Mitra Internasional (AMI).

Panitia pusat Kegiatan Kebaktian Nasional Reformasi 500, Gunawan, menyebut acara telah dipersiapkan sedari Mei 2017 dan akan dihadiri sekitar 3.500 undangan. Panitia juga telah mendapatkan izin penggunaan Stadion Kridosono pada 12 Mei 2017, yang kemudian mengirimkan surat pemberitahuan ke kepolisian.

"Karena tamunya banyak, 3.500 orang, tempat yang sekira kami anggap menampung ya Stadion Kridosono," ujar Gunawan saat dihubungi di Yogyakarta, Jumat 20 Oktober 2017.

Namun, pihak PT AMI yang juga Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Yogyakarta ini mengirimkan surat pembatalan penggunaan tempat untuk kebaktian yang akan dipimpin Stephen Thong Evangelistic International (STEMI), pada 12 Oktober 2017.

Pihak panitia sempat memprotes pembatalan sewa secara sepihak itu karena alasan PT AMI tak bisa diterima. "Alasan pembatalan karena Kota Yogyakarta sedang tidak kondusif. Menyatakan wilayah aman atau tidak kan bukan wewenang PT AMI. Bukan domainnya," tutur Gunawan.

Meski sempat memprotes, PT AMI tetap membatalkan sewa Stadion Kridosono dengan lampiran surat dari salah satu ormas keagamaan. Surat kedua dari PT AMI yang dikirimkan ke panitia ini tertanggal 17 Oktober 2017.


Spanduk pemberitahuan kegiatan kebaktian yang ditiadakan. Foto: MTVN/Ahmad Mustaqim


Gunawan menyatakan sedih dan prihatin atas kejadian itu. Sebab, acara serupa di kota lain, seperti di Solo, Bandung, Makassar, dan Ambon bisa berlangsung dengan lancar. Pihak panitia juga memasang spanduk pemberitahuan kegiatan kebaktian ditiadakan.

"Kami sangat sedih. Yogyakarta yang kami kenal sebagai kota pelajar, kota pluralisme, kota budaya tapi kami mengalami seperti ini," ujarnya.

Sempat beredar pula surat dari Forum Ukhuwah Islamiyah DIY soal penolakan kegiatan itu. Surat tertanggal 12 Oktober 2017 ini ditujukan ke Polda DIY. "Tapi suratnya tidak jadi kami kirim ke Polda DIY," kata seorang presidium Forum Ukhuwah Islamiyah DIY, Syukri Fadholi.

PT AMI diduga mendapatkan tekanan dari surat yang beredar di sosial media itu. Akan tetapi Direktur Utama PT AMI, Dyah Puspitasari, membantah adanya tekanan itu. Menurut Dyah, pembatalan sewa lokasi ini sebagai respon adanya keberatan dari sejumlah pihak.

"Lokasi Stadion Kridosono yang di tengah kota dan di tengah persimpangan jalan, kami harus antisipatif atas adanya keberatan dari pihak-pihak lain. Kami hanya mengantisipasi akan adanya konflik," kata dia.

Ia meminta kegiatan dipindah ke tempar lain. "Maka kami sarankan untuk dipindahkan ke tempat tertutup supaya lebih nyaman dan khusyuk beribadah," katanya.
(SUR)