NYIA Dituding Hancurkan Asa Penyandang Disabilitas

Ahmad Mustaqim    •    Selasa, 10 Jul 2018 08:51 WIB
infrastrukturbandara
NYIA Dituding Hancurkan Asa Penyandang Disabilitas
Laporan warga terdampak bandara NYIA ke ORI Perwakilan DIY. Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Yogyakarta: Proyek bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA), Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dituding telah menghancurkan masa depan warga penyandang disabilitas. Sejumlah warga penyandang disabilitas tak diajak berkomunikasi dengan baik dalam proses perataan lahan (land clearing).

Center for Improving Qualified Activity in Live of People with Disabilitas (CIQAL), salah satu organisasi disabilitas di Yogyakarta, mencatat ada dua warga disabilitas yang mendapat perlakukan tak layak.

Dua warga tersebut yakni Agus Urbaningrum, warga Dusun Kepek, Desa Glagah, Kecamatan Temon dan Tugiman, warga Dusun Kragon II, Desa Palihan, Kecamatan Temon.

"Agus ini difabel rungu dan wicara, sedangkan Tugiman adalah difabel folio," ujar Direktur CIQAL Yogyakarta, Nuning Suryatiningsih saat ditemui di Kantor Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan DIY, Senin, 9 Juli 2019.

Dalam proses land clearing pada akhir Juni hingga awal Juli 2018, lahan kedua warga tersebut ikut terdampak. Namun, keduanya tidak difasilitasi pendampingan.

"Sebagai disabilitas, mereka seharusnya diberikan akomodasi yang layak dalam proyek pembangunan (bandara NYIA). Misalnya Agus, dia harus disediakan penerjemah sehingga persoalan yang terjadi di lapangan bisa tersampaikan," kata dia.

Nuning mengatakan, persoalan yang terjadi pada Agus tak tersampaikan. Agus hanya bisa meratapi kerusakan lahan dan hasil pertaniannya hancur saat proses land clearing. Menurut dia, PT Angkasa Pura sudah sepantasnya memfasilitasi dalam konteks proyek fasilitas transportasi yang dikerjakan BUMN ini.

"Lahannya (Agus) habis, hasil pertanian digilas. Itu jerih payahnya selama bekerja keras berbulan-bulan. Ini menunjukkan teman-teman disabilitas juga pekerja keras," ucapnya.


Direktur CIQAL Yogyakarta, Nuning Suryatiningsih. Medcom.id/Ahmad Mustaqim


Warga Dusun Munggahan, Desa Palihan, Sofyan juga menjadi salah satu warga terdampak yang masih menolak proyek bandara NYIA. Lelaki 33 tahun ini tak bisa memastikan ada berapa kelompok disabilitas yang terdampak proyek bandara NYIA dan tidak terfasilitasi.

"Kalau warga secara umum ada sebanyak 37 KK di dalam pagar (lokasi utama bandara) dan 50 KK di luar pagar. Kami masih tetap menolak proyek ini," ujar Sofyan.

Sofyan bersama belasan warga kembali menyampaikan laporan dugaan maladministrasi pengerjaan proyek pembangunan bandara NYIA ke ORI Perwakilan DIY.

Ia mengatakan, proses land clearing beberapa hari lalu sudah menghancurkan lahan pertanian, tanaman cabai siap panen, semangka, dan sayuran lain. Selain itu, kata dia, juga telah merusak alat pertanian hingga kandang ternak warga.

"Apalagi IPL (Izin Penetapan Lahan) bandara (NYIA) sudah tak berlaku per 1 April 2018. Kami berharap ada tindak lanjut dari ORI. Bahwa mereka (PT Angkasa Pura) harus menghentikan proses pembangunan," katanya.

Laporan ke Kantor ORI Perwakilan DIY merupakan yang kesekian kalinya dilakukan warga terdampak proyek bandara. Awal 2018, ORI telah menyatakan telah terjadi maladministrasi di proses pembangunan bandara NYIA.

Kepala ORI Perwakilan DIY, Budhi Masturi mengatakan laporan warga kali ini sebatas perkembangan yang terjadi di lapangan. Ia menyatakan tak bisa turun ke lapangan karena isi laporan masih bagian dari permasalahan sebelumnya.

"Jika (rekomendasi ORI Perwakilan DIY) tak dilaksanakannya (PT Angkasa Pura) kami akan kirim ke Jakarta untuk diberikan tim resolusi. Tim pusat akan membuat rekomendasi," kata Budhi.

General Manager PT Angkasa Pura I, Agus Pandu Purnama mengatakan proses pembangunan NYIA sudah sesuai prosedur. Ia juga mengaku belum mendapatkan laporan warga ke ombudsman.

"Saya belum dengar terkait ombudsman, nanti saya pelajari," kata dia.



 


(SUR)