Tiga Pendeteksi Longsor dipasang di Kawasan Bantul

Patricia Vicka    •    Kamis, 04 Oct 2018 15:48 WIB
longsor
Tiga Pendeteksi Longsor dipasang di Kawasan Bantul
Sejumlah wisatawan menikmati panorama Yogyakarta dari ketinggian di obyek wisata alam Puncak Becici di kawasan Hutan Mangunan, Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (10/5). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra.

Yogyakarta: Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memasang tiga alat Early Warning System (EWS).

Ketiganya di pasang di lokasi rawan bencana tanah longsor di Kabupaten Bantul untuk antisipasi longsor saat musim hujan.

"EWS ini akan berfungsi sebagai alat pengingat warga beberapa saat sebelum tanah longsor terjadi. Diharapkan bisa meminimalisir korban," kata Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana di kantor BPBD DIY Jalan Kenari Yogyakarta, Kamis, 4 Oktober 2018.

Biwara menjelaskan, tiga wilayah yang dipasangi EWS berada di perbukitan, yaitu Tambalan Desa Srimartani, Lemahrubuh Desa Selopamioro, dan Bojong Desa Wonolelo.

" Pemasangan dilakukan minggu lalu. Sekarang tinggal aktivasi sistemnya," jelas Biwara.

Selain memasang EWS, Pemda turut meminta warga di lokasi rawan bencana untuk bersiaga dan waspada pada tanda-tanda alam di musim hujan. 

Sementara Kepala Harian BPBD Bantul, Dwi Daryanto mengatakan, pihaknya sudah mengingatkan warga yang tinggal di lereng dan perbukitan agar waspada tanah longsor.
 
Setidaknya ada 11 desa di lima kecamatan Kabupaten Bantul yang berada di zona rawan bencana tanah longsor.

Desa tersebut yaitu Mangunan dan Munthuk di Kecamatan Dlingo, Sriharjo, Selopamioro, Karang Tengah, Wukirsari, dan Girirejo di Kecamatan Immogiri. Kemudian Wonolelo di Kecamatan Pleret. dan terakhir Desa Srimartani, dan Srimulyo di Kecamatan Piyungan.


(DEN)