Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi Masih Mengancam

Patricia Vicka    •    Jumat, 17 Nov 2017 11:24 WIB
gunung merapibanjir lahar
Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi Masih Mengancam
Banir lahar hujan di Sungai Gendol, lereng Gunung Merapi, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta pada 2014 -- ANT/Sigid Kurniawan

Yogyakarta: Banjir lahar dingin masih berpotensi terjadi di sejumlah sungai di Yogyakarta. Berbagai langkah antisipasi pun dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, salah satunya dengan memperbaiki tujuh peralatan Early Warning System (EWS).

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Yogyakarta Bayu Wijayanto menjelaskan, tujuh EWS yang diperbaiki tersebar di tiga sungai yang melintasi Kota Yogyakarta. Hulu ketiga sungai ini berada di Gunung Merapi, yaitu Sungai Winogo, Code, dan Sungai Gajah Wong.

"EWS diperbaiki agar bisa maksimal melaporkan peningkatan volume air di hulu," kata Bayu di Yogyakarta, Kamis, 16 November 2017.

Selain itu, lanjut Bayu, pihaknya menyiagakan petugas di pos pemantauan yang berada di Ngantak. Jika volume air di hulu sungai meningkat, EWS akan berbunyi dan patugas akan meminta warga yang tinggal di pinggiran sungai bersiap.

"Jika banjir lahar dingin datang, kami siapkan alat berat untuk mengeruk lumpur. Pengadaan alat berat hasil kerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU)," ujarnya

BPBD Kota Yogyakarta juga memasang delapan CCTV di sepanjang aliran tiga sungai tersebut. Daerah yang berpotensi terdampak jika terjadi banjir lahar dingin adalah wilayah Kecamatan Danurejan dan Tegal Rejo.

Banjir lahar dingin masih menjadi ancaman karena masih banyaknya material di hulu sungai di kaki Gunung Merapi. Material tersebut akan bergerak menjadi lahar dingin jika terkena air hujan.

Saat ini, curah hujan di wilayah Yogyakarta masih terbilang rendah. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Desember 2017 hingga Febuari 2018.


(NIN)