Polisi Ungkap Jaringan Distribusi Ilegal Tabung Gas Elpiji di Karanganyar

Pythag Kurniati    •    Minggu, 18 Jun 2017 18:28 WIB
gas elpiji
Polisi Ungkap Jaringan Distribusi Ilegal Tabung Gas Elpiji di Karanganyar
Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak bersama tersangka penyalahgunaan distribusi tabung gas elpiji dan barang bukti----MTVN/Pythag--

Metrotvnews.com, Karanganyar: Satgas mafia pangan Polres Karanganyar mengungkap jaringan distribusi perdagangan ilegal tabung gas elpiji. Tersangka bernama Eko Setiawan, 34 dibekuk polisi, Selasa 13 Juni 2017 lalu.

Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak mengatakan, pengungkapan kasus bermula dari informasi kelangkaan gas elpiji subsidi tiga kilogram di wilayah Karanganyar. "Satgas mafia pangan kemudian melakukan penyelidikan," ungkap Ade Safri, Minggu, 18 Juni 2017.

Benar saja, satgas mendapati temuan penyalahgunaan distribusi tabung gas elpiji tiga kilogram. Temuan didapati saat satgas mafia pangan mengecek sebuah kandang puyuh di kawasan Desa Selokaton, Gondangrejo, Karanganyar.

Ade menerangkan, Eko dan rekannya mengelabui konsumen dengan memindahkan isi tabung gas elpiji tiga kilogram ke tabung gas 12 kilogram (non subsidi). "Dilakukan untuk meraup keuntungan," jelas Kapolres.

Jaringan ini, lanjut dia, bekerja cukup rapi untuk menghindari kecurigaan polisi. Pertama, Eko dan dua rekannya membeli tabung-tabung gas subsidi tiga kilogram di beberapa tempat.

Tabung gas subsidi tiga kilogram itu mereka beli seharga Rp17 ribu per tabung. "Disamping itu tersangka dan rekannya juga membeli tabung gas 12 kilogram kosong," katanya.

Isi empat buah tabung gas subsidi tiga kilogram kemudian mereka pindahkan ke tabung gas 12 kilogram dengan teknik khusus. Tersangka terlebih dahulu merendam tabung dalam air panas untuk mengetahui kemungkinan kebocoran serta mempermudah membuka katup.

Pemindahan isi tabung gas dilakukan melalui selang regulator. "Saat memindahkan mereka merendam tabung dalam air dingin untuk menghindari efek ledakan," jelas dia.

Tabung-tabung elpiji 12 kilogram kemudian dijual ke rumah makan, restoran dan warung makan di kawasan Solo Raya. "Dijual dengan harga Rp110 ribu hingga Rp120 ribu," tutur Ade Safri.

Setiap satu tabung gas, mereka mampu meraup keuntungan Rp42 ribu hingga Rp47 ribu. Berdasarkan keterangan, tersangka mampu merampungkan pemindahan 10 tabung gas elpiji dalam waktu satu hari.

Eko dan dua rekannya melakukan pemindahan isi tabung gas di sebuah kandang burung puyuh di Gondangrejo, Karanganyar. Saat lokasi digerebek, polisi menyita sejumlah barang bukti antara lain 15 tabung elpiji ukuran 12 kilogram dalam keadaan kosong, 37 tabung elpiji 12 kilogram dalam keadaan isi.

Polisi juga menyita 19 tabung 3 kilogram dalam keadaan isi, 92 tabung 3 kilogram kosong serta segel bekas tabung. Sejumlah alat seperti timbangan, tang, pemotong kuku, dandang dan kompor tak luput disita petugas.

Satu orang tersangka (Eko Setiawan) berhasil dibekuk polisi sedangkan dua tersangka lainnya masih dalam pengejaran. Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 62 ayat 1 juncto Pasal 8 huruf a, b dan c UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Tersangka juga melanggar pasal 53 huruf a, 54 dan 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Migas lantaran mengolah tanpa izin usaha pengolahan, memalsukan gas bumi hasil olahan, menyalahgunakan pengangkutan dan atau niaga bbm dan gas bumi yang disubsidi oleh pemerintah.

"Ancaman hukuman maksimal lima hingga enam tahun penjara," ujar dia.


(ALB)