Volume Air Waduk Cacaban Tegal Sisa 7,8 Juta Meter Kubik

Kuntoro Tayubi    •    Kamis, 14 Sep 2017 18:21 WIB
kemarau dan kekeringan
Volume Air Waduk Cacaban Tegal Sisa 7,8 Juta Meter Kubik
Sejumlah perahu sedang berlabuh di tepi Waduk Cacaban, Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com /Kuntoro Tayubi)

Metrotvnews.com, Tegal: Musim kemarau di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, semakin parah berdampak pada meluasnya kekeringan di sejumlah desa. Banyak lahan pertanian tak berproduksi dan warga kesulitan mendapatkan air bersih. 

Parahnya lagi, debit air di Waduk Cacaban yang menjadi andalan bagi petani Kabupaten Tegal, juga menyusut. Penyusutan volume air waduk itu, mencapai 12 hingga 14 sentimeter per hari. 

"Mulai bulan Juli sudah terjadi penyusutan volume air setiap hari," kata Petugas Pengelola Waduk Cacaban, Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Edy Kusworo, Kamis, 14 September 2017. 

Menurut Edy, dari pantauan terakhir pagi ini, volume air waduk tercatat 7,8 juta meter kubik dari kapasitas bisa mencapai 49 juta meter kubik. Sementara elevasi atau ketinggiannya 68,07 sentimeter. Edy memperkirakan, selama belum turun hujan, debit air akan terus menyusut. 

"Selama musim kemarau, akan terus menurun (debit airnya). Tapi sejauh ini kondisinya masih aman," ucapnya.

Dia mengungkapkan, sejak penyusutan volume air, terpaksa pengeluaran untuk pengairan areal pertanian harus dikurangi sejak awal September. Langkah ini untuk menjaga agar waduk tak sampai mengering yang bisa berdampak buruk pada kondisi waduk.

"Pengeluaran dikurangi mulai 4 September. Dari 4.500 liter per detik, jadi 2.500 liter per detik. Dikurangi agar bisa memenuhi sampai Oktober sesuai perkiraan musim kemarau," ungkapnya.

Dia menambahkan, air waduk selama ini digunakan untuk mengaliri areal pertanian seluas 7.400 hektare di lima kecamatan di Kabupaten Tegal. Meliputi Kecamatan Pangkah, Kedungbanteng, Tarub, Adiwerna, dan Kramat.‎ "Kalau kondisi debit air tinggal 5 juta meter kubik, pengeluaran untuk pengairan lahan pertanian terpaksa distop," imbuhnya.

Salah satu petani di wilayah Kecamatan Kramat, Sudaryo, 40, mengaku tidak bisa bercocok tanam karena tidak ada air untuk mengairi lahan sawahnya. Biasanya, dia menggunakan air irigasi yang disuplay dari Waduk Cacaban. 

"Terpaksa saya menganggur. Tanamnya nanti menunggu musim hujan tiba," kata Sudaryo yang memiliki lahan sawah seluas sekitar 1 hektare di wilayah Kecamatan Kramat. 

Sementara, informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tegal, musim kemarau akan berakhir pada awal Oktober. Hujan diperkirakan terjadi pada Oktober dan November mendatang. 



(ALB)