Kendal Bebas Difteri dengan Menguatkan Peran Posyandu dan Puskesmas

Iswahyudi    •    Rabu, 06 Dec 2017 11:50 WIB
klb difteri
Kendal Bebas Difteri dengan Menguatkan Peran Posyandu dan Puskesmas
Petugas menimbang berat badan anak saat dilakukan imunisasi di Posyandu. Foto: Antara/M Ayudha

Kendal: Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri masih terjadi di sejumlah provinsi di Indonesia. Namun Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, berhasil bebas dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae dengan menggencarkan peran Posyandu dan Puskesmas.

"Sampai saat ini Kabupaten Kendal tidak ada  warga yang terkena  difteri," kata Kepala  Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal Sri Mulyani, Rabu, 6 Desember 2017.

Difteri bisa dicegah dengan imunisisasi vaksi. Perlu peran Posyandu dan Puskesmas dalam menguatkan sosialisasi dan pencegahan. Sebab, tak sedikit orang tua yang enggan mengimunisasi anaknya.

Kasi Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Kendal Sri Handoyo mengatakan Kendal bisa nihil kasus difteri karena terus menggalakkan program imunisasi di barisan terdepan pelayanan kesehatan masyarakat..

"Kami menggalakkan Posyandu di  masing-masing desa dan  RW. Selain itu di Puskesmas  juga melayani imunisasi DPT, baik anak-anak maupun dewasa" kata  Sri Handoyo.

Penularan, gejala, dan akibat

Difteri adalah infeksi bakterial serius yang mempengaruhi membran mukossa di tenggorokan dan hidung. Penyakit ini mudah menyebar dari satu orang ke orang lain.

Difteri dapat menyebar melalui kontak langsung obyek yang mengandung bakteri. Seperti cangkir minuman, atau penggunaan tisu/sapu tangan yang sama. Difteri juga dapat menular jika terpapar pasien difteri lewat lendir atau cairan tubuh.

(Baca: Waspada Difteri di Masa Peralihan Musim)

Gejala dan tanda difteri tampak dalam 2-5 hari setelah terpapar bakteri. Beberapa orang tidak menunjukkan gejala, namun sebagian memiliki gejala ringan yang sama dengan flu. Terdapat gejala difteri yang khas dan dapat dilihat, seperti lapisan tebal abu-abu di di tenggorokan dan amandel.

Meskipun orang yang terinfeksi difteri belum tentu menunjukkan tanda dan gejala, orang tersebut tetap mampu menularkan difteri sampai dengan 6 minggu setelah infeksi awal. Jika tidak diobati, difteri dapat menyebabkan kerusakan serius di ginjal, sistem saraf, dan jantung.

Pada 2017, sedikitnya ada 591 kasus infeksi difteri yang dilaporkan oleh 20 provinsi. Angka kematian dari laporan tersebut sekitar 6 persen dari jumlah total kasus.

Salah satu pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan imunisasi Td atau tetanus difteri. Warga juga perlu memahami difteri menular dari manusia ke manusia.
 


(SUR)