Menteri Agama Sebut Perceraian Sudah Jadi Gaya Hidup

Patricia Vicka    •    Selasa, 19 Dec 2017 12:55 WIB
menteri agama
Menteri Agama Sebut Perceraian Sudah Jadi Gaya Hidup
Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin -- MI/Tosiani

Yogyakarta: Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengaku prihatin dengan tingginya angka perceraian di Indonesia. Ia melihat adanya pergeseran makna pernikahan yang membuat perceraian seolah sudah menjadi gaya hidup.

"Bagi sebagian kalangan, perceraian sudah menjadi life style, gaya hidup. Mereka merasa lebih trendi, lebih gaya. Semakin banyak kawin-cerai, semakin diterima di komunitasnya," kata Lukman saat acara Gebyar Kerukunan 2017 di Gedung Olah Raga Universitas Negeri Yogyakarta, Senin, 18 Desember 2017.

Bahkan, Lukman mengatakan menemukan adanya perceraian yang sudah direncanakan sebelum pernikahan. Hal ini terjadi karena perceraian bukan semata ketidakcocokan antara suami isteri, tetapi lebih ke gaya hidup.

"Sekarang ada anggapan nikah bukan sesuatu yang sakral. Terjadi desakralisasi pernikahan. Cukup menikah selama dua tahun lalu cerai," katanya.

Padahal, lanjut Lukman, perkawinan itu sebenarnya bukan sekedar ikatan antara dua orang berlawanan jenis. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral karena mengikat akad dengan Tuhan yang mensyaratkan nikah.

Menurut Lukman, pemerintah tak tinggal diam dengan fenomena baru ini. Guna menekan angka perceraian, Kantor Kementerian Agama di daerah diminta lebih getol mensosialisasikan keberadaan balai nikah kepada masyarakat.

Balai tersebut berfungsi bukan hanya untuk melakukan akad nikah. Tapi, juga pendidikan pranikah bagi calon pengantin dan tempat manasik haji.

Pada kesempatan itu, Lukman mengingatkan para calon mempelai pria untuk lebih teliti membaca sighat ta'liq di buku nikah. Ia mendorong pendamping dan penyuluh pernikahan membacakan sighat ta'liq setelah ijab kabul pernikahan dilaksanakan.

"Perjanjian itu sangat penting dibacakan, karena memuat empat perjanjian yang melindungi istri," tegas Lukman.


(NIN)