Sekeluarga Tinggal di Gubuk Demi Turuti Kemauan Anak

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 11 Nov 2016 11:29 WIB
kemiskinan
Sekeluarga Tinggal di Gubuk Demi Turuti Kemauan Anak
Gubuk Muhsin yang ia tempat bersama istri dan anaknya. (Foto-foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Bantul: Gubuk beratap seng berdiri di pinggir pesawahan di Dusun Monggang, Desa Trihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Bangunan berdinding gedek serta terpal itu menjadi pilihan tempat tinggal keluarga kakek Ahmad Muhsin.

Lelaki 86 tahun ini tinggal di tempat tersebut bersama istrinya Esti Suparmi, serta seorang anak bernama Yono. Muhsin mengaku sudah lebih dari sebulan meninggali tempat itu. "Sejak Sempember," kata Muhsin, Jumat (11/11/2016).

Semula, Muhsin beserta anak dan menantunya tinggal satu rumah di Dusun Grondo, Desa Panjangrejo, Kecamatan Pundong, Bantul. Mereka memutuskan tinggal di gubuk setelah Yono bercerai dengan istri. 

"Anak saya tidak suka kalau tinggal di sana," kata Muhsin.

Bukannya tidak layak huni. Rumah Muhsin justru dibangun dengan bahan permanen usai diperbaiki akibat gempa 2006. Rumah warisan orangtuanya itu kini dibiarkan tak berpenghuni.

"Aksesnya tidak bagus, harus lewat gang kecil. Kadang anak saya suka pergi, kalau enggak dicari enggak pulang," katanya.

Muhsin tampaknya cukup sayang dengan anaknya. Dia berusaha terus menuruti permintaan Yono. Anak lelakinya itu pernah minta sepeda motor, dan dituruti.

Namun, Yono menjual sepeda motor itu tak lama setelah dibelikan. "Itu terjadi dua kali," ungkap Muhsin.


Muhsin di gubugnya.

Padahal, Muhsin tidak bisa dibilang keluarga berlebih harta. Dia bekerja sebagai buruh bangunan. Kini, dia hanya menggantungkan hidup dari penghasilan istri dan bantuan orang.

"Kadang Rp25 ribu. Syukur bisa untuk beli beras," katanya.

Telah lama Muhsin tak bisa beraktivitas karena kakinya cedera. Dalam kondisi inipun, kata dia, Yono kerap marah-marah tanpa alasan jelas. Terkadang, katanya, Yono marah hanya karena lapar saat bangun tidur.

Hingga Muhsin berkesimpulan kalau Yono mengalami gangguan kejiwaan. Itu sebabnya, Muhsin memilih tinggal di gubuk pinggiran sawah ketimbang menempati rumah lamanya.

Di gubuk 2,5 x 2,5 meter itulah dia menjalani sisa hidup dengan istrinya. Ruang luar dan dalam hanya dipisahkan sekat terpal. Muhsin tidur di luar, istrinya di dalam. Sedang Yono, tidur di pos ronda di seberang jalan.

Kepala Dukuh Grondo, Sukirdo mengaku sudah berupaya membujuk keluarga Muhsin agar menempati rumahnya yang lebih layak. Selain memiliki rumah, tambah Sukirdo, Muhsin juga memiliki pekarangan luas. Akan tetapi, upaya membujuk Muhsin tak membuahkan hasil.

"Ya mau bagaimana lagi. Kami sudah dekati tapi tidak mau," katanya.


(SAN)