Hindari Cuaca Ekstrem, Petani Bantul Ajukan Masa Tanam

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 26 Nov 2016 14:32 WIB
banjir
Hindari Cuaca Ekstrem, Petani Bantul Ajukan Masa Tanam
Area pertanian di Kecamatan Temon, Kulon Progo yang tergenang air. Foto-foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sejumlah petani di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, memilih membiarkan lahan sawahnya tergenang air tanpa ditanami. 

Akan tetapi, petani memiliki jalan alternatif agar aktivitas pertanian mereka tak terganggu tingginya curah hujan. Yakni, memajukan masa tanam padi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, Pulung Haryadi, mengatakan masa awal musim hujan kerap menjadi kendala bagi sejumlah petani. Terlebih apabila dalam kondisi curah hujan cukup tinggi, seperti yang terjadi di Yogyakarta akhir-akhir ini.

Pulung mengaku telah memberi penyuluhan agar masa tanam padi petani di Bantul diajukan September lalu. "Karena tanaman padi merupakan tanaman yang cocok dalam cuaca seperti saat ini," ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu (26/11/2016).

Pulung menuturkan padi merupakan jenis tanaman yang suka dengan kondisi air melimpah. Menurut dia selama tidak terendam, tanaman padi akan tetap bisa bertahan hingga buah.



Ia menilai keputusan memajukan masa tanam padi berdampak positif bagi petani. Saat ini, kata dia, luasan sawah yang ditanami padi lebih banyak daripada yang ditanami palawija.

Pulung menaksir luasan lahan tanaman padi bertambah sekitar 700 hektare. "Tapi, dampaknya tentu terjadi pengurangan produksi palawija, misalnya kedelai atau kacang," kata Pulung.

Baca: Lahan Terendam Banjir, Petani di Kulon Progo Menganggur

Belum ada laporan soal adanya kendala yang ditemukan petani akibat tingginya intensitas hujan. Kendati demikian, ia meminta para petani bisa memperbaiki saluran drainase agar tanamannya tak terendam ketika terjadi curah hujan yang tinggi.

"Saya rasa saat ini tidak ada lagi lahan pertanian (di Kabupaten Bantul) yang terendam," ucap Pulung.

Sebelumnya, beberapa petani di Kulon Progo tak bisa bercocok tanam padi lantaran lahannya tergenang air. Mereka memilih menunggu debit air berkurang untuk menggarap lahan pertanian.

Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko, mengatakan petani di Kulon Progo bisa memanfaatkan pompa air untuk mengurangi debit air di lahan pertanian. Kemudian, lahan tersebut diolah dan bisa ditanami dengan padi jenis inpari 30. 

"Padi jenis ini tahan terhadap baniir," kata Sasongko.


(UWA)