Tradisi Menginang nan Ratusan Tahun Tetap Lestari

Pythag Kurniati    •    Jumat, 24 Nov 2017 16:27 WIB
warisan budaya
Tradisi Menginang nan Ratusan Tahun Tetap Lestari
Warga menginang. Foto: Metrotvnews.com / Pythag Kurniati

Solo: Irama merdu mengalun dari Masjid Agung Surakarta, Jumat, 24 November 2017. Irama tersebut bersumber dari ditabuhnya dua perangkat gamelan, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari.

Tepat tanggal 5 Rabiul Awal, atau Mulud dalam bulan Jawa, Keraton Kasunanan Surakarta membunyikan dua perangkat gamelan kuno yang warisan leluhur. Tabuhan pertama gamelan menandai dimulainya rangkaian tradisi sekaten dalam rangka memperingati Maulid Nabi.

Prosesi dibunyikannya gamelan yang disebut ungeling gongso atau jenggleng sekaten ini disaksikan ratusan masyarakat. Bersamaan dengan bunyi pertama gamelan, bak dikomando, masyarakat mulai mengunyah kinang.

Seperti warga Kabupaten Sukoharjo, Partinah, 54. Dengan cekatan ia melipat dan memasukkan kinang ke dalam mulutnya.

"Mengunyah kinang dilakukan bersamaan saat gamelan pertama kali dibunyikan. Agar bisa awet muda," ungkap Partinah, Jumat, 24 November 2017.


Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari mulai dibunyikan, Jumat, 24 November 2017. Menandai berawalnya peringatan Maulid Nabi. Foto: Metrotvnews.com / Pythag Kurniati

Budayawan Jawa KPA Winarnokusumo mengatakan, tradisi menginang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Kinang terdiri dari kapur sirih, tembakau, gambir, daun sirih dan bunga kantil. Kinang dinikmati dengan dikunyah hingga menghasilkan warna merah.

Warna merah yang dihasilkan dari kinang sekaligus digunakan sebagai pemerah bibir alami bagi orang-orang dahulu.

Kepercayaan orang-orang terdahulu bahwa menginang dapat membuat awet muda, imbuhnya, cukup beralasan. Seperti halnya jamu, kinang mengandung antibiotik yang memelihara kesehatan tubuh.

"Daun sirih misalnya, mengandung banyak khasiat saat dikonsumsi. Kemudian, jika dikunyah, kinang bisa memperkuat gigi," urainya.


Warga berebut daun janur saat gamelan pertama dibunyikan. Foto: Metrotvnews.com / Pythag Kurniati

Sementara, Tuminah, 62 warga Teras, Boyolali mengaku telah puluhan tahun berjualan kinang setiap perayaan sekaten. Satu buah kinang dijual seharga Rp 1.000.

"Biasanya, jika ramai, dalam satu hari bisa terjual hingga 100 kinang," paparnya.

Selain mengunyah kinang, masyarakat juga berebut daun janur pada saat gamelan sekaten dibunyikan pertama kali. Masyarakat meyakini daun janur yang diperebutkan membawa berkah.


 


(SUR)