Napi Pengendali 600 Ribu Ekstasi Tanam Ponsel di Rutan

Pythag Kurniati    •    Jumat, 24 Nov 2017 12:55 WIB
narkoba
Napi Pengendali 600 Ribu Ekstasi Tanam Ponsel di Rutan
Ilustrasi Rutan Kelas I Surakarta. Foto: Metrotvnews.com / Pythag Kurniati

Solo: Andang Anggara, menjadi salah satu pengendali penyelundupan 600 ribu ekstasi dari Belanda. Narapidana yang tengah mendekam di Rutan Kelas I Surakarta ini mengelabui petugas dengan menanam telepon genggam di halaman ruang tahanannya.

Temuan tersebut diketahui setelah Rutan Kelas I Surakarta menerima kedatangan Bareskrim Mabes Polri untuk memeriksa Andang pada 10 November 2017. "Hari itu juga kami langsung menggeledah," ungkap Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Kelas I Surakarta Urip Dharma Yoga, Jumat, 24 November 2017.

Awalnya, petugas rutan hanya menemukan satu telepon genggam di ruang tahanan Andang. Namun, setelah didalami, ternyata benda itu bukan satu-satunya telepon genggam yang disembunyikan Andang.

(Baca: Dua Napi Kendalikan 600 Ribu Butir Ekstasi)

"Kami mendesak Andang mengaku dan kooperatif," ujar Urip. Kemudian diketahui ia menanam dua telepon genggam di halaman depan ruang tahanannya.

Andang mengaku menggunakan batu dan kayu di sekitar rutan untuk menggali tanah. Dua telepon genggam itu ditemukan petugas terbungkus dalam plastik.

"Ditanam di tanah sedalam lebih dari 50 sentimeter," urainya.

(Baca: Ekstasi Selundupan Diakui sebagai Mesin Vakum)

Tak cukup sampai di situ, petugas juga menemukan satu telepon genggam yang disembunyikan di balik gulungan karpet. Lokasinya berada di belakang masjid rutan.

Total empat unit telepon genggam dan simcardnya telah diserahkan pada penyidik Bareskrim Mabes Polri. Bareskrim Mabes Polri rencananya akan memindahkan Andang dari Rutan Kelas I Surakarta ke Jakarta. Selama menunggu pemindahan, ia ditempatkan di ruang isolasi agar tidak bercampur dengan tahanan lainnya.


Foto telepon genggam yang disembunyikan oleh Andang di beberapa lokasi di rutan. Foto: Metrotvnews.com / Pythag Kurniati


Setelah kasus ini, Urip mengaku akan meningkatkan inspeksi mendadak (sidak). Sidak menyasar warga binaan maupun petugas rutan.

"Kami akan tingkatkan keamanan, kegiatan sidak serta penggeledahan," jelas Urip.

Apabila dalam inspeksi diketahui adanya keterlibatan petugas rutan yang membantu maupun menutup-nutupi, pihaknya tak segan mengambil tindakan tegas. "Sanksinya bisa sampai dipecat," tandasnya.


(SUR)