Negara Merugi Rp123 Juta karena Ratusan Ribu Rokok tak Bercukai

Pythag Kurniati    •    Jumat, 30 Sep 2016 11:16 WIB
cukai
Negara Merugi Rp123 Juta karena Ratusan Ribu Rokok tak Bercukai
Bea Cukai Surakarta rilis penyitaan ratusan ribu rokok ilegal, MTVN - Pythag Kurniati

Metrotvnews.com, Karanganyar: Bea Cukai Surakarta, Jawa Tengah, menyita rokok ilegal di kawasan Klaten. Produksi rokok tak berpita cukai itu mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp123 juta.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B Surakarta, Kunto Prasti Trenggono, menyebutkan petugas menyita lebih 410 ribu batang rokok ilegal. Petugas melakukan penyitaan sejak 26 September.

"Awalnya kami mendapatkan informasi dari intelejen bahwa ada aktivitas produksi rokok illegal di wilayah Klaten," ungkap Kunto, Jumat (30/09/2016).

Setelah mendapat laporan, petugas mengintai lokasi produksi rokok. Kemudian petugas menggeledah sebuah mobil di kawasan Karanganom. Mobil tersebut berkaitan dengan produksi rokok itu.

“Benar saja, dari kecurigaan tersebut kami menemukan 410.600 batang rokok yang tidak dilekati pita cukai,” ujar Kunto.

Rencananya, pelaku membawa ratusan ribu batang rokok illegal tersebut ke wilayah Pati dan Jepara untuk dikemas.
 
Kunto menerangkan selain menemukan rokok-rokok ilegal, petugas mendapati empat orang terkait yang berada di dalam mobil. Satu diantaranya bernama EF, saat ini ditahan di Rutan Kelas I Surakarta lantaran disinyalir merupakan otak pelaku.
 
Setelah dilakukan pengembangan, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean B Surakarta menggeledah sebuah gudang di wilayah Klaten. Gudang tersebut digunakan untuk memproduksi rokok-rokok illegal.
 
“Kami menyita satu unit mesin produksi rokok berkapasitas 1.800 batang per menit, bahan baku dan bahan penolong produksi rokok dari gudang. Menurut keterangan EF, dia baru tiga bulan menjalankan kegiatan produksi rokok ilegal di gudang tersebut,” kata Kunto.
 
Atas perbuatannya, para pelaku terancam melanggar Pasal 50 dan 54 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. Pelaku terancam hukuman kurungan, minimal satu tahun dan maksimal lima tahun penjara serta denda paling sedikit dua kali nilai cukai dan paling banyak 10 kali nilai cukai.


(RRN)