Warga Kulon Progo Rayakan Perlawanan Menolak Pembangunan Bandara

Ahmad Mustaqim    •    Minggu, 18 Sep 2016 13:10 WIB
bandara
Warga Kulon Progo Rayakan Perlawanan Menolak Pembangunan Bandara
Sebuah gunungan sayuran yang diarak dalam peringatan ulang tahun WTT. Foto-foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Kulon Progo: Ratusan masyarakat Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kirab gunungan sayuran, Minggu 18 September. Masyarakat yang tergabung dalam paguyuban Wahana Tri Tunggal (WTT) itu merayakan peringatan perlawanan rencana proyek pembangunan bandara, di Dukuh Macanan, Desa Glagah.

Baca: Tolak Bandara, Warga Kulon Progo Mogok Makan

Koordinator WTT, Martono mengatakan ada sebanyak 300 anggotanya yang hadir dalam acara itu. Ia mengungkapkan, acara yang dikemas sebagai peringatan ulang tahun WTT ke empat itu dilakukan untuk merenungi perjuangan yang telah dilakukan dalam menolak proyek pembangunan bandara selama empat tahun.

"Ini untuk merenungi apa yang sudah dilakukan dan menyongsong langkah ke depan apa yang akan kita lakukan," kata Martono kepada Metrotvnews.com.

Selain itu, lanjutnya, acara tersebut juga menjadi ajang konsolidasi para anggota WTT dalam menolak proyek pembangunan bandara. Menurutnya, berkumpulkan para anggota WTT sekaligus menunjukkan kepada pemerintah bahwa masih ada masyarakat yang tetap menolak adanya bandara baru yang rencananya bernama New Yogyakarta International Airport (NYIA) itu.


Gunungan dari hasil bumi menghiasi aksi penolakan NYIA di Desa Glagah, Temon, Kulon Progo, Minggu (18/9/2016).

Baca: Tolak Bandara, Ratusan Warga Kulon Progo Datangi PTUN

"Selama ini ada yang menganggap WTT sudah tidak ada. Sekarang kami di sini sudah menunjukkan ke pemerintah bahwa WTT masih eksis," ujarnya.

Martono mengakui perjuangannya untuk menolak bandara ke depan semakin berat. Proses pembangunan bandara yang memasuki tahap pembayaran ganti rugi lahan, ia menegaskan, bersama anggotanya tidak akan menerima uang tersebut. "WTT konsisten tidak akan menerima iming-iming uang," ucapnya.

Ia menyebut sudah ada dua anggotanya yang belum lama keluar dari WTT. Akan tetapi, ia tak mengetahui dua orang tersebut menerima uang ganti rugi atau tidak.

"Anggota kami (WTT) sampai kini masih 300 orang. Ada sekitar 60 hektare tanah WTT yang berstatus hak milik," tegasnya.

Baca: Jelang Ganti Rugi Lahan Bandara, 300 Warga Kulon Progo Masih Menolak

Poses kelanjutan proyek pembangunan NYIA memasuki tahap pembayaran ganti rugi lahan melalui pemerintah desa setempat. Proses itu telah mulai sejak 14 September hingga 4 Oktober mendatang.

Kepala Desa Glagah, Agus Parmono, mengklaim, telah mengundang anggota WTT dalam pembayaran ganti rugi itu. Menurut dia, tidak banyak warga WTT yang melakukan penolakan.

"Kegiatan WTT hari ini saya melakukan pemantauan. Kebanyakan dari luar, bukan dati Desa Glagah," ucapnya.


(SAN)