Klinik Malapraktik, Muhammadiyah Diminta Tanggung Jawab

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 03 Oct 2016 14:50 WIB
malapraktik
Klinik Malapraktik, Muhammadiyah Diminta Tanggung Jawab
Ahmad Januar As'ari, anak korban dugaan malapraktik di Klinik Muhammadiyah, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kaltim. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Warga Kalimantan Timur mendatangi Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jalan Cik Ditiro No 23, Kota Yogyakarta, Senin, 3 Oktober. Dia mengaku sebagai keluarga korban dugaan malapraktik Klinik Muhammadiyah, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser.

Dugaan malapraktik dialami Humaidah ketika akan melahirkan di RSUD Panglima Sebaya, Paser. Lantaran Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang ia bawa ditolak, Humaidah dirujuk ke ke Klinik Muhammadiyah yang berjarak 30 kilometer dari kediamannya.

"Peristiwanya terjadi pada pertengahan 2011," kata Ahmad Januar As'ari, anak Humaidah.

Proses persalinan berjalan lancar. Anak kelima Humaidah pun lahir. Tak lama usai melahirkan, Humaidah ditawari KB steril oleh pihak klinik.

"Orangtua saya menyetujui. Operasi KB steril berlangsung dua jam usai melahirkan," kata Januar.

Kerusakan otak

Dua jam usai pemasangan KB steril, Humaidah mengalami sesak nafas, kejang-kejang, dan bahkan nadinya sempat tak berdetak. Januar menyebut, pihak klinik tidak melakukan sesuatu saat ibunya dalam kondisi tersebut. Saat Humaidah tidak bernafas, kata dia, perawat jaga klinik sempat menghubungi dokter selama 30 menit.

Selama 30 menit menunggu itu, Januar mengaku ibundanya tak memperoleh pertolongan apapun, termasuk nafas buatan atau alat bantu pernafasan.

"Dalam kurun waktu itulah otak ibu saya mengalami kerusakan karena tidak ada pasokan oksigen maupun tindakan pertolongan lainnya," jelasnya.

Selang beberapa waktu, Humaidah dirujuk ke RSUD Paser yang dianggap memiliki peralatan medis lebih baik. Sebulan dirawat, Humaidah lalu dirujuk ke RSUD Kanujoso Jatiwiboso Balikpapan. Empat bulan menjalani perawatan di Kanujoso, Humaidah disarankan dibawa pulang. Alasannya, tak ada rumah sakit di Balikpapan yang memiliki fasilitas lengkap untuk pengobatan.

"Keluarga saya memutuskan membawa ibu ke RSUD Paser. Selama lima tahun di RSUD Paser, penanganan yang diterima ibu hanyalah perawatan, tidak ada pengobatan untuk cedera otak yang diderita," katanya.

Salah alamat

Kuasa hukum keluarga Januar dari LBH SIKAP Balikpapan, Ebin Marwi berharap kliennya memperoleh solusi dengan mendatangi PP Muhammadiyah. Namun, kedatangan mereka tak langsung ditemui oleh pihak PP Muhammadiyah bidang kesehatan.

"Belum ada kepastian (ada) pertamuan dengan PP Muhammadiyah. Kami minta PP Muhammadiyah ikut membantu pengobatan. Kondisi korban semakin sulit," kata Ebin.

Wakil Ketua Majelis Pelayanan Kesehatan PP Muhammadiyah Bidang Hukum, Slamet Budiarto mengatakan organisasinya tak memiliki kaitan dengan dugaan malapraktik dokter itu. Menurut dia, keluarga Humaidah mestinya mengadu ke Ikatan Dokter Indonesia.

"Salah pengaduan (kalau ke PP Muhammadiyah). Sudah ada jalannya kalau berhuhungan dengan dokter. Jika kami dimintai bantuan pengobatan, kami mungkin bisa karena ada Lazismu (Lembaga Amil, Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah). Tapi harus dilihat dulu, yang bersangkutan berhak menerima zakat atau tidak," kata Slamet melalui sambungan telepon.


(SAN)