Nelayan Menjerit Dilarang Beli Premium Pakai Jeriken

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 17 Sep 2016 16:28 WIB
nelayan
Nelayan Menjerit Dilarang Beli Premium Pakai Jeriken
Aktivitas nelayan di Bantul, DIY, Ant - Andreas Fitri Atmoko

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Pertamina melarang pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di SPBU dengan menggunakan jeriken, termasuk di Yogyakarta. Namun, kebijakan itu berdampak negatif bagi para nelayan di pesisir pantai selatan Yogyakarta.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rujimanto mengatakan kerap memperoleh keluhan dari para nelayan perihal masalah itu. Dari keluhan yang Rujimanto dapatkan, BBM jenis pertalite yang saat ini digunakan para nelayan tidak cocok untuk mesin kapal.

"Mesin (kapal nelayan) menjadi lebih mudah panas," kata Rujimanto melalui sambungan telepon, Sabtu (17/9/2016).

Tak berhenti di soal itu. Rujimanto juga mengatakan, para nelayan keberatan beralih menggunakan pertalite. Mereka menilai harga pertalite mahal bila harus membelinya di pengecer yaitu Rp8 ribu per liter. Sementara harga premium hanya Rp7.500 per liter di tingkat pengecer.

Dengan demikian, lanjutnya, kondisi tersebut sama sekali tak menguntungkan bagi nelayan. Sebab, besarnya modal membeli bahan bakar berkebalikan dengan minimnya hasil tangkapan ikan. Menurut dia, kondisi ini sangat memberatkan bagi nelayan.

"Untuk membeli premium di SPBU itu jaraknya bisa sampai 25 kilo meter. Masa kami (nelayan) harus membawa mesin kapal ke SPBU?" keluhnya.

Rujimanto berharap adanya kajian ulang kebijakan pelarangan pembelian premium memakai jerigen. Sebab, kebijakan itu berdampak langsung dengan perekonomian nelayan di pesisir pantai selatan.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul, Agus Priyanto mengaku sudah mengetahui kondisi tersebut. Agus mengatakan telag membantu berkoordinasi antara pihak asosiasi nelayan dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas).

"Kami sudah memberi nomor telepon (Hiswanamigas). Saya pikir sudah tidak ada masalah karena nelayan tidak menghubungi saya lagi,” kata dia.



(RRN)