Anak Pelaku Klithih Perlu Disembuhkan dari Rasa Candu

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 20 Apr 2017 11:11 WIB
kekerasan anak
Anak Pelaku <i>Klithih</i> Perlu Disembuhkan dari Rasa Candu
Ilustrasi

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Perlu kepedulian bersama agar anak-anak, khususnya di Yogyakarta, tidak terlibat tindakan kriminal. Sudah ada 15 pelajar di Yogyakarta harus tinggal di balik jeruji besi lantaran terlibat tindakan kekerasan tanpa sebab atau klithih.

Pada Januari 2017, sembilan pelajar SMA divonis bersalah dan dihukum 3-5 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Yogyakarta. Mereka dihukum setelah terbukti melakukan klithih hingga menewaskan seorang siswa SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, Adnan Wirawan, pada Desember 2016.

(Baca: Penganiaya Siswa SMA Muhammadiyah Dihukum 5 Tahun Penjara)

Teranyar, enam bocah usia SMP-SMA divonis 4-7,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta pada 17 April 2017. Vonis dijatuhkan setelah mereka terbukti melakukan klithih kepada seorang pelajar SMP, Ilham Bayu Fajar, pada Februari 2017.

Sosiolog kriminal Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto mengatakan, kejadian tersebut memprihatinkan. Ada sejumlah faktor kuat penyebab pelajar melakukan klithih.

Pertama, kata Suprapto, faktor internal. Pelaku didominasi berasal dari keluarga broken home. Akibatnya, mereka mengalami krisis identitas.

Kedua, faktor eksternal. Senior atau alumni seringkali meminta pelaku melakukan tindak kekerasan.

"Mereka secara tidak langsung dimanfaatkan. Anak-anak ini belum tahu apa risiko ketika dia melukai, bahkan hingga menghilangkan nyawa orang lain," kata Suprapto saat dihubungi Metrotvnews.com, Kamis, 20 April 2017.

Suprapto menjelaskan, perlu adanya penguatan kontrol pada anak-anak usia pelajar. Namun, kontrol keluarga terhadap anak-anak saat ini kian melemah.

"Pelaku (klithih) ada yang berusia SMP, dan kejadian itu di atas jam 12 malam. Ini perlu menjadi catatan dan evaluasi, bagaimana anak usia SMP lebih dari jam 12 malam masih keluar rumah," katanya.

Penerapan kurikulum pendidikan yang cerdas dan bermartabat, lanjut Suprapto, juga harus sepenuhnya diterapkan. Tindakan melukai, membuat cacat seumur hidup, bahkan hingga menghilangkan nyawa orang lain adalah tindakan yang semestinya tidak dilakukan. Apalagi pelaku masih pelajar.

"Anak-anak harus mendapat sosialisasi, bahwa tak semua tindak kekerasan akan diselesaikan di luar pengadilan. Anak-anak perlu diberikan pemahaman soal ini," tuturnya.

Suparpto menambahkan, anak-anak yang berada di LPKA juga harus mendapatkan bimbingan dengan benar. Tak hanya pembinaan, pihak LPKA harus bisa menyediakan orang yang mampu memberikan terapi anak-anak itu untuk menghilangkan hormon keinginan melukai orang lain.

Perilaku melukai atau menyakiti orang lain, kata Suprapto, bisa memunculkan rasa candu. Hal itu terlihat pada salah satu pelaku klithih, FF, yang divonis 7,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Yogyakarta.

(Baca: Eksekutor Klithih Divonis 7,5 Tahun Penjara)

FF menjadi residivis setelah sebelumnya pernah ditangkap polisi karena melakukan kekerasan. Meskipun akhirnya diselesaikan di luar jalur hukum atau diversi.

"Setelah nanti mereka lepas, perlu adanya pemantauan. Mereka perlu diarahkan di dalam masa transisi setelah melakukan atau terlibat dalam tindalan kriminal. Mereka harus melakukan tindakan positif dengan meninggalkan perilaku untuk melukasi orang lain," pungkasnya.

 


(NIN)