Menanam Benih Multikulturalisme pada Anak-anak

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 15 Jul 2017 18:21 WIB
hari anak nasional
Menanam Benih Multikulturalisme pada Anak-anak
Sejumlah anak-anak dari Komunitas Guyub Bocah saat berkunjung ke Gereja Katholik Santoyusuf Bintaran -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Sekitar 60 anak-anak memasuki Gereja Katholik Santoyusuf Bintaran, Kota Yogyakarta. Anak-anak yang sebagian besar mengenakan jilbab itu disambut seorang romo yang biasa memimpin ibadah di sana.

Dengan penuh rasa ingin tahu, puluhan anak-anak itu mendapat pengetahuan soal agama Khatolik. Selanjutnya, mereka mengunjungi pura, klenteng, dan masjid.

Kegiatan tersebut diikuti Komunitas Guyub Bocah yang beranggotakan pelajar dari tingkat SD-SMA di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah selama dua hari pekan lalu. Kegiatan wisata pendidikan multikulturalisme bertema `Bersama Merawat Keberagaman` itu diselenggarakan Yayasan Satunama.

Damar Dwi Nugroho, staf Pengelolaan Program Anak-anak Yayasan Satunama, mengatakan, kegiatan edukasi tersebut agenda untuk memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2017. Menurutnya, kunjungan ke berbagai rumah ibadah dapat memberi pengetahuan kepada anak-anak mengenai dasar kebhinnekaan dan toleransi.

"Kegiatan ini melibatkan Komunitas Guyub Bocah yang anggotanya dari sebagian Jawa Tengah dan DIY. Ada dari Solo Raya, Sleman, dan Kulon Progo," ujar Damar kepada Metrotvnews.com baru-baru ini.

Damar menuturkan, sejumlah lokasi yang dikunjungi diantaranya Gedung Agung atau Istana Negara di Yogyakarta, Klenteng Gondomanan, Masjid Gede Kauman, Gereja Bintaran, dan Gereja Kristen Indonesia Ngupasan. Selain di tempat ibadah, anak-anak tersebut diajak berkunjung ke Candi Sojiwan, Candi Plaosan, dan Candi Sambisari.

"Ini menjadi pembelajaran bagi anak-anak soal keberagaman budaya dan religi di Indonesia. Ini menjadi pengetahuan dasar ketika nanti mereka dewasa," ucapnya.


Anak-anak dari Komunitas Guyub Bocah saat berada di Candi Sambisari Kalasan, Sleman, Yogyakarta -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Dianing Putri, 21, relawan peringatan hari anak Yayasan Satunama, menuturkan materi yang disampaikan kepada anak-anak tersebut tak hanya sebatas pengetahuan dan merawat keberagaman. Lebih dari itu, anak-anak juga belajar sejarah dan literasi.

"Anak-anak bisa belajar langsung ke tempatnya, bukan lewat orang lain. Tidak seperti kata si A, kata si B, atau kata yang lain," ungkapnya.

Baginya, pelajaran toleransi bagi anak sejak dini menjadi jawaban atas terus merebaknya peristiwa intoleransi. Menurut Putri, hal itu penting lantaran kunjungan ke berbagai tempat ibadah itu menjadi yang pertama bagi anak-anak.

"Rasa keingintahuan mereka besar. Mereka langsung tahu berbagai hal yang selama ini didengar dari orang lain," kata dia.

Selain acara tersebut, peringatan hari anak bakal disertai sejumlah agenda. Putri menekankan kegiatan yang diberikan bertujuan agar anak-anak bisa lebih menghargai keberagaman.

"Kita ingin anak-anak terlibat merawat keberagaman. Mereka menjadi penerus negara ini nantinya," ujar Putri.

Terpisah, Ketua Forum Persekutuan Umat Beragama Abdul Muhaimin mengungkapkan memberi pengetahuan keberagaman bagi anak-anak sangat penting dan bagus. Ia mengaku pernah melakukan youth camp dengan format keluarga muslim menginap di tempat keluarga nonmuslim, dan berlanjut sebaliknya.

Secara tak langsung, kegiatan tersebut bisa mencegah berkembangkan paham radikal dan perilaku intoleran. "Yang tak kalah penting adalah memberikan pemahaman aspek keagamaan yang humanis dan kultural. Ini bisa membangun arus besar keagamaan secara kultural," jelasnya.


(NIN)