Pedagang tak Lagi Jual Beras Maknyuss

Iswahyudi    •    Selasa, 25 Jul 2017 13:52 WIB
beras
Pedagang tak Lagi Jual Beras Maknyuss
Salah satu pedagang beras di Pasar Kendal, Jawa Tengah. (Metrotvnews.com/Iswahyudi)

Metrotvnews.com, Kendal: Penggerebekan gudang beras milik PT Indo Beras Unggul (IBU) di Bekasi berpengaruh pada peredaran beras kemasan merek Ayam Jago dan Maknyuss di beberapa daerah. Beras yang disebut laku keras itu akan ditarik oleh distributor.

Pantauan di Pasar Kendal, Jawa Tengah, Selasa, 25 Juli 2017, beberapa pedagang mengaku tidak lagi menjual dua merek beras tersebut. “Mulai hari ini akan ditarik distributornya, makanya tidak saya jual,” kata Nurul, salah satu pedagang beras.

Baca: Pabrik Beras di Bekasi Disegel Mabes Polri

Nurul menyebut, beras Maknyuss dan Ayam Jago laku keras. Dalam dua pekan, Nurul bisa menjual hingga satu ton. Dia mengaku dua merek beras itu punya kualitas tinggi.

"Kalau Maknyuss berasnya jenis C4 super. Kalau Ayam Jago oplosan C4 super dengan beras Bramo," kata dia. Beras Maknyuss dijual Rp62.000 sedangkan Ayam Jago Rp63.000 dalam kemasan 5 Kg.

Hariyati, salah satu pembeli beras mengaku dua merek beras itu enak dan pulen. Namun, sejak ada pemberitaan penggerebekan gudang, dia tidak lagi membeli.

Dia berharap pemerintah bisa memberikan titik terang ihwal kasus itu agar tak menimbulkan keresahan.

Kasus dugaan penjualan harga tinggi beras subsidi bermula dari penggerebekan gudang milik PT IBU di Jalan Rengas, Karangsambung, Kedungwaringin, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 20 Juli 2017. 

Penggerebekan oleh Bareskrim Polri itu disaksikan langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian beserta Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Ketua KPPU Syarkawi Rauf. 

Baca: 5 Bantahan PT IBU Atas Tuduhan Kecurangan Penjualan Beras

Terkait perbuatannya, PT IBU diduga melanggar Pasal 383 Bis KUHP dan Pasal 141 UU 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Ancaman hukumannya lima tahun penjara.

Belakangan, PT IBU membantah telah menggunakan beras bersubsidi masyarakat sejahtera. Kemasan berlabel 'premium' juga disebut sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Bantahan disampaikan Direktur PT Tiga Pilar Sejahtera (AISA) Jo Tjong Seng.


(SAN)