Guguran di Puncak Merapi Masih Dianggap Normal

Ahmad Mustaqim    •    Senin, 17 Dec 2018 12:04 WIB
gunung merapi
Guguran di Puncak Merapi Masih Dianggap Normal
Ilustrasi asap solfatara keluar dari kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (29/11/2018). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

Yogyakarta: Guguran terjadi di puncak Gunung Merapi sekitar pukul 19.00 WIB, Minggu malam, 16 Desember 2018. Meski demikian, situasi itu tak membahayakan warga di luar radius tiga kilometer dari puncak. 

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida mengatakan, guguran tersebut memiliki jarak luncur sekitar 300 meter ke arah selatan Sungai Gendol.

"Sebenarnya guguran lava sudah terjadi sejak 22 Agustus. Jadi ini fenomena biasa saja. Arahnya (guguran) biasanya ke barat laut. Itu sebenarnya hal yang biasa pada saat terjadi pertumbuhan kubah lava," kata Hanik saat dihubungi, Senin, 17 Desember 2018.

Hanik menjelaskan, terus tumbuhnya kubah lava membuat fenomena guguran masih akan terjadi. Ia menyebutkan pertumbuhan kubah lava masih terbilang rendah, sekitar dua ribu hingga tiga ribu meter kubik per hari.

"Kubah lava baru saat ini ada sebanyak 359 ribu meter kubik. Sementara, volume kawah itu sebesar 10 juta meter kubik. Saat ini masih kecil sekali," ungkap Hanik.

Hanik mengungkapkan, belum ada ancaman berarti bagi masyarakat. Dengan jarak guguran sekitar 300 meter, sementara jarak aman aktivitas manusia sekitar tiga kilometer. "Tapi masyarakat di lereng (Gunung Merapi) tetap harus waspada dan hati-hati. Masyarakat masih tetap bisa aktivitas dengan nomal dengan jarak yang tak lebih dari tiga kilometer dari puncak," beber Hanik. 

Senada, Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Sleman, Makwan mengatakan, guguran yang terjadi malam tadi kapasitasnya masih kecil. "Masyarakat tetap tenang. Tetap perbarui informasi yang bisa dipercaya" ungkap Makwan.


(DEN)