Terendam Banjir, Kualitas Gabah di Kudus Menurun

Rhobi Shani    •    Jumat, 01 Feb 2019 11:29 WIB
bencana alambencana banjir
Terendam Banjir, Kualitas Gabah di Kudus Menurun
ilustrasi Medcom.id/ Rakhmat Riyandi.

Kudus: Ratusan hektare sawah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terendam banjir. Akibatnya, kualitas dan harga gabah merosot. Salah satu lahan pertanian yang terendam banjir yaitu di Desa Gondoharum Kecamatan Jekulo. Buruh tani yang hendak memanen harus menggunakan terpal sebagai media pengangkut gabah di atas genangan.

Seorang buruh petani, Peno Arwanto mengungkapkan, gabah yang terendam kadar airnya tinggi. Sehingga, kondisi itu mempengaruhi harga jual gabah dari petani ke tengkulak.

"Ya, harganya terus jadi merosot," kata Peno, Jumat saat ditemui di lokasi, Jumat, 1 Februari 2019.

Jika kondisi gabah baik, sepetak sawah dengan luas sekitar 1.500 meter persegi menghasilkan gabah dengan nilai jual kepada tengkulak Rp7 juta. Namun, lantaran terendam banjir harga jual gabah menjadi Rp4 juta.

"Tetap dijual ke tengkulak atau pemborong gabah daripada tidak ada hasil," jelas Peno.

Tidak hanya harga anjlok, proses panen pun membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebab, padi yang dipotong diletakan pada terpal yang dibentuk seperti perahu. Kemudian terpal ditarik menuju tepi jalan yang jaraknya bisa mencapai ratusan meter.

"Cara mengangkutnya pakai terpal yang dibuat seperti perahu agar bisa dibawa ke jalan, karena kondisinya banjir. Sawah terendam," beber Peno.

Sementara Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, Arin Nikmah mengatakan, tingginya intensitas hujan mengakibatkan 800 hektare lahan pertanian terendam banjir. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Jekulo, Mejobo, Undaan, Jati, dan Kaliwungu.

Lahan yang terendam belum tentu gagal panen. Tanaman padi bakal tidak bisa dipanen apabila terendam banjir lebih dari enam hari. Sedangkan yang terjadi di Kudus baru sekitar 4 hari. Sehingga padi masih hisa dipanen. Potensi lahan yang puso akibat genangan banjir mencapai 532 hektare.

"Hanya saja, lahan yang terendam tersebut akan menghasilkan gabah dengan kualitas lebih rendah dari biasanya. Karena kadar airnya terlalu banyak, maka beras yang dihasilkan warnanya tidak bisa jernih, atau mangkak. Sedangkan padi yang terendam masih dalam proses pengisian bulir, maka bisa gabuk atau kopong," terang Arin.


(DEN)