Wartawan Jepara Gelar Ruwatan di Hari Pers Nasional

Rhobi Shani    •    Jumat, 09 Feb 2018 16:21 WIB
pershari pers nasional
Wartawan Jepara Gelar Ruwatan di Hari Pers Nasional
Teatrikal ruwatan dalam rangka Hari Pers Nasional oleh wartawan Jepara. Foto: Medcom.id/Rhobi Shani

Jepara: Paguyuban wartawan Jepara (Pawarta) gelar ruwatan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018. Acara tersebut bertujuan mengingatkan marwah pewarta sebagai penyambung lidah rakyat.

Ruwatan diselenggarakan di depan kompleks Pemkab Jepara dan dipimpin Rhobi Sani, wartawan Medcom.id. Di tengah gerimis, alat-alat liputan beserta kartu pers diruwat.

Prosesi ruwatan dimulai dengan melantunkan suluk dan tembang-tembang macapat, serta menaburkan bunga setaman. Prosesi berakhir dengan laku lampah, yang dilakukan oleh Wikha Setiawan pewarta Detik.com dan Femmy Noviyanti jurnalis dari Radar Kudus.

Usai prosesi ruwatan dilanjutkan dengan parade pembacaan puisi. Tak hanya awak media, Kabag Humas Pemkab Jepara yang kini sudah purna, pun turut serta membacakan geguritan.

Setelah seluruh rangkaian ruwatan rampung, acara dilanjutkan dengan kembul bujana atau selamatan yang diadakan di Pendapa Paseban. Turut hadir dalam kegiatan itu Bupati Jepara Ahmad Marzuqi.

“Saya mengucapkan selamat merayakan Hari Pers Nasional. Semoga ke depan lebih mengedepankan profesionalitas dan proporsionalitas dalam pekerjaannya,” ungkap Marzuqi, Jumat 9 Februari 2018.

Pewarta senior Suara Merdeka Sukardi menambahkan, pentingnya menjaga persaudaraan. Serta, meningkatkan profesionalitas dalam bekerja dan berpegangan pada Kode Etik Jurnalistik.

“Penting bagi kita untuk meningkatkan paseduluran dan menjaga integritas sebagai pekerja media,” ajak Sukardi.

Ketua PWI Jepara Budi Santosa menambahkan, ruwatan kali ini dilakukan agar seluruh wartawan yang bekerja di wilayah Jepara terhindar dari aksi kekerasan. Serta, menjadi media mengoreksi diri sendiri atas tugas utama seorang wartawan.

“Ini adalah simbol bagi kami untuk mengevaluasi diri dalam menjalankan profesi. Kita juga harus senantiasa menyesuaikan dengan revolusi jurnalistik, agar bisa menyesuaikan dengan kondisi tersebut,” pungkas Budi.


(SUR)