Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Dianggap Gagal

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 12 Nov 2016 16:20 WIB
pendidikan
Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Dianggap Gagal
Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan HB X (kiri) bersama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (tengah) memberikan pemaparan saat Kongres Bahasa Jawa VI 2016 di Yogyakarta, Rabu (9/11/2016). Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Proses pembelajaran bahasa Jawa di lingkungan pendidikan dianggap gagal. Hal itu ditunjukkan dengan sulit berkembangnya bahasa Jawa di kalangan remaja saat ini.

Guru besar bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Pranowo, mengatakan faktor gagalnya pembelajaran bahasa Jawa di sekolah diakibatkan guru pengajar banyak yang tidak memiliki kompetensi bahasa dan sastra Jawa.

"Mengapa saya katakan demikian, banyak guru seperti guru matematika, IPS, atau biologi, yang merasa bisa bahasa Jawa diberikan beban mengajarkan bahasa Jawa," ujar Pranowo usai Kongres Bahasa Jawa VI, di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Sabtu (12/11/2016).

Pranowo menjelaskan, kongres bahasa Jawa yang berlangsung 8-12 November dan diikuti akademisi dan pegiat bahasa, menghasilkan sejumlah rekomendasi penting. Salah satunya, pengajaran bahasa dan sastra Jawa harus lebih dikembangkan.

Pengembangan tersebut terutama dilakukan di lingkungan PAUD, SD, hingga SMA. Termasuk meningkatkan kompetensi guru pengajar bahasa Jawa. "Ada persepsi anak takut belajar bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, ini kan memprihatinkan," ujarnya.

Selain itu, pengembangan bahasa Jawa dilakukan di lingkungan informal, seperti keluarga. Menurutnya, orang tua harus menggunakan bahasa Jawa krama, dan bukan ngaka. Ia menilai penggunaan bahasa Jawa krama akan bisa membentuk kepribadian anak menjadi lebih baik.

"Terkadang masih ada yang menganggap bahasa Jawa tidak penting karena dilihat dari sisi ekonomi. Padahal, bahasa Jawa sebagai warisan nenek moyang menjadi hal tak ternilai harganya," ujar Pranowo.

Selain itu, kongres tersebut juga merekomendasikan bahasa Jawa wajib digunakan di lembaga pemerintahan di hari tertentu. Di samping itu, tambahnya, juga perlu adanya lembaga formal dan informal yang mempelajari bahasa Jawa.



(UWA)