Alat Antikorupsi dari Australia di Solo Terancam tak Optimal

Pythag Kurniati    •    Selasa, 20 Sep 2016 09:24 WIB
antikorupsi
Alat Antikorupsi dari Australia di Solo Terancam tak Optimal
Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson menyaksikan permainan antikorupsi bagi anak-anak usia SD dan MI. Simulasi permainan dilakukan di Balai Tawang Arum Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (19/09/2016).

Metrotvnews.com, Solo: 283 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Solo, Jawa Tengah menerima alat peraga antikorupsi dari Pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Partnership and Justice (AIPJ) dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Alat ini terancam tak optimal karena minimnya tenaga pemandu.

Secara simbolis, Duta Besar Australia untuk Indonesia Paul Grigson menyerahkan alat peraga berupa permainan anak tersebut di Balai Tawang Arum Balai Kota Solo.

Pelibatan anak-anak usia dini dalam upaya memerangi korupsi, kata Paul, penting dilakukan. “Melibatkan mereka sejak dini dalam isu sensitif, seperti korupsi adalah hal yang baik. Jika ini diaplikasikan maka bisa memicu perubahan budaya,” ungkapnya, Senin (19/09/2016).

Paul menuturkan, anak-anak sebenarnya mampu memahami persoalan korupsi. “Contohnya ketika saya bertanya, bagaimana jika ada rekan yang meraih ranking terbaik tapi dengan mencontek? Mereka tahu jawabannya. Mereka tahu mana yang baik dan buruk,” papar dia.

Pemerintah Australia, lanjutnya, akan mendukung program antikorupsi di Indonesia selama tersedia dana. Lantarannya, korupsi menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat di seluruh negara.

Ada beberapa jenis permainan yang dirancang oleh AIPJ dan KPK. Alat peraga tersebut antara lain Sembilan Nilai (Semai) untuk anak-anak SD dan MI, majo junior, dan lain sebagainya. Bentuk permainan dan cara memainkan tidak jauh berbeda dengan permainan monopoli.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Solo Etty Retnowati mengungkapkan implementasi penggunaan alat peraga tersebut di sejumlah sekolah masih terkendala tenaga pemandu permainan.

“Sementara ini ada agen SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) yang datang ke tiap sekolah dan mengajari adik-adik. Selanjutnya kita juga akan latih guru-guru di tiap sekolah agar bisa memandu permainan,” urainya.

Etty berharap 283 alat peraga antikorupsi akan menjadi awal yang baik untuk mendidik karakter anak. “Menjadi apa anak-anak di masa yang akan datang, dimulai dari hari ini. Jadi mereka harus dilibatkan dalam perang melawan korupsi,” pungkasnya.


(SAN)