Jadi Jaminan Utang, Dua Gadis Sumbawa Disekap di Solo

Pythag Kurniati    •    Kamis, 09 Jun 2016 16:05 WIB
penyekapan
Jadi Jaminan Utang, Dua Gadis Sumbawa Disekap di Solo
Alsa dan Ria didampingi Mulyadi Ketua Social Analysis Reseasrch Institute di Solo, Jateng, Kamis (9/6/2016). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)

Metrotvnews.com, Solo: Nasib malang menimpa Alsa Mutmah Innah, 18, dan Ria Febrianti, 21, dua bersaudara asal Kecamatan Lape, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Keduanya dijadikan jaminan utang oleh kerabatnya dan disekap di Solo, Jawa Tengah.

Perjalanan Alsa dan Ria hingga ke Solo bermula dari tawaran kerja dari kerabatnya, Syaif Hamdan. Pria itu menawari keduanya kerja di Singapura melalui PT Sekar Tanjung Lestari.

Gaji yang ditawarkan Rp6 juta per bulan. “Karena gaji yang ditawarkan cukup besar, kami pun menjalani medical check up, foto, mengisi biodata,” ungkap Alsa saat ditemui di Kantor Social Analysis Reseasrch Institute (SARI) Karangasem, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (9/6/2016).

Keduanya lantas dijemput Syaif, sekitar pukul 00.00 WIB, pada 4 Juni. Mereka sempat menginap dan diberangkatkan melalui Bandara Sultan Kaharuddin, Sumbawa Besar menuju Bandara Internasional Lombok, esok harinya.

“Dari Lombok kami ke Surabaya diantar Syaif. Sampai di Surabaya kami dijemput seseorang bernama Agus sedangkan Syaif memisahkan diri menuju Jakarta,” tutur Alsa. Dari beberapa orang yang berganti-ganti menjemput korban, diduga kasus ini melibatkan jaringan.

Setibanya di Bandara Juanda, Surabaya, ungkapnya, mereka diantar ke bus Damri. Di sana telah menunggu seseorang bernama Sani. Melalui jalur darat, ketiganya menuju Solo.

Sampai di Solo, Alsa dan Ria dibawa ke sebuah rumah di Jalan Mandala V RT 03 RW 07, Jumo, Jaten, Karanganyar. “Kami diserahkan kepada seseorang bernama Chandra di sana,” imbuh dia.

Perasaan aneh muncul saat keduanya ditempatkan di rumah Chandra bukan di tempat penampungan resmi TKI. Berulangkali Chandra memperingatkan mereka untuk tidak ke luar rumah. “Kami hanya disuruh menyapu saja," tutu Alsa.

Beruntung, Alsa masih memegang alat telekomunikasi. Dia menghubungi pamannya di Mataram.

Mendapat informasi dari keponakannya, Sugito, paman Alsa, menghubungi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sumbawa. Dia memastikan pemberangkatan TKI atas nama dua keponakannya itu.

“Ternyata tidak ada. Saya seketika terpikir mencari keponakan saya karena dugaan pemberangkatan ilegal,” terang Sugito.

Sugito pun memohon bantuan Social Analysis Reseasrch Institute (SARI) di Solo untuk membantu menangani kasus ini.

Perdagangan orang

Ketua SARI, Mulyadi mengungkapkan segera berkoordinasi dengan Kanit PPA Polres Solo Dan Polres Karanganyar.

“Unit Reskrim Polres Karanganyar mengerebek rumah di Jalan Mandala V RT 003/007 Jumo Jaten, Karanganyar tempat dua korban berada pada Selasa, 7 Juni 2016. Chandra berdalih keduanya adalah asisten rumah tangga di tempat itu,” kata dia. Polisi pun membawa Chandra untuk dimintai keterangan.

Mulyadi mengungkapkan kasus ini sudah memenuhi unsur kasus  perdagangan manusia. Antara lain karena korban dipindahkan dari desa asalnya, ditipu, kemudian disekap. Ternyata diketahui, kata Mulyadi, korban menjadi jaminan utang Syaif Hamdan kepada seseorang. Alsa dan Ria pun telah diorder untuk menghasilkan uang.

Belakangan, masih kata Mulyadi, Syaif merupakan karyawan PT Sekar Tanjung Lestari di Kelurahan Brang Biji, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, NTB. Dia berutang Rp 2 juta kepada seseorang. Syaif menjadikan Alsa  dan Ria sebagai jaminan utangnya.

“Kasus ini masih ditangani oleh Polres Karanganyar. Saat ini fokus kami dan keluarga adalah pemulihan psikologis korban dan upaya pemulangan ke tempat asal," terangnya.

Mulyadi mengaku masih menemui kesulitan dalam hal pendanaan untuk memulangkan Alsa, Ria dan pamannya, ke Sumbawa.


(SAN)