Seorang Warga Sleman Meninggal Akibat Leptospirosis

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 24 Mar 2018 11:41 WIB
penyakit
Seorang Warga Sleman Meninggal Akibat Leptospirosis
(Foto: Bloomberg)

Sleman: Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman mencatat sejak awal tahun di wilayahnya ada 10 orang terjangkit leptospirosis. Satu orang di antaranya meninggal. 

"Kasus warga terkena leptospirosis yang meninggal terjadi di Desa Sidokerto. Ada juga seorang warga yang meninggal tapi berstatus suspect," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Sleman, Novita Krisnaini saat dihubungi pada Sabtu, 24 Maret 2018. 

Catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, 10 orang yang terjangkit penyakit yang disebabkan kuman dalam air seni dan sel hewan itu tersebar di tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Moyudan (dua kasus); Gamping (dua); Prambanan (dua); serta Kecamatan Tempel, Ngaglik, Berbah, dan Turi, yang masing-masing terjadi satu kasus. 

Menurut Novita, kasus leptospirosis banyak menyerang di kalangan petani. Dari segi usia, orang terkena leptospirosis di atas 15 tahun. 

Peristiwa tersebut menambah daftar panjang kasus serupa di Sleman pada tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak enam warga Sleman terkena leptospirosis pada 2015, dan tak sampai meninggal. Tahun berikutnya, turun menjadi hanya dua kasus. 

Tahun 2017 melonjak menjadi 48 kasus, yang 10 di antaranya meninggal. "Pada 2017 itu kasus (leptospirosis) terjadi kaitannya karena cuaca ekstrem," ujarnya. 

Novita menuturkan petugas kesehatan Puskesmas rutin memberikan laporan soal penyakit leptospirosis. Ciri-ciri orang yang terkena penyakit tersebut yakni mengalami panas, lemas, nyeri betis, mual, muntah, badan kuning, dan gagal ginjal. 

"Jika demikian, itu harus segera ditangani dan biasanya menularnya lewat air kencing tikus," ujarnya.

Ia menambahkan, rumah sakit hingga Puskesmas sudah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan atas potensi penyakit itu. Selain kewaspadaan, surat itu juga berisi edukasi, peningkatan peningkatan sistem kewaspadaan dini, meningkatkan sistem pelayanan dan deteksi dini dengan alat leptotek, serta meningkatkan koordinasi antar instansi.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Heru Saptono menyampaikan instansinya masih menyelidiki kasus leptospirosis yang menyebabkan korban jiwa. Penyelidikan itu untuk mencari tahu penyebab sebenarnya apakah akibat leptospirosis atau yang lain. 

Terkait kasus leptospirosis yang menyerang petani, ia mengimbau petani maupun kelompok tani lebih peka dengan kondisi lingkungannya. "Biasanya jerami jadi tempat sembunyi tikus. Sebisa mungkin jerami itu dikumpulkan di satu titik tertentu saja," tuturnya.


(ALB)