Empat Tahun Balita Luqman Melawan Kelainan Hati

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 18 May 2017 11:21 WIB
donasi
Empat Tahun Balita Luqman Melawan Kelainan Hati
Luqman Hidayat, balita empat tahun pengidap penyakit kelainan hati, dipangku ibunya, Sri Daryani, 35. (Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Luqman Hidayat terkulai lemas di pangkuan ibunya. Sorot mata bocah empat tahun itu begitu redup. Bola mata yang mestinya putih dan hitam, mulai menguning.

Di rumah kecil orangtuanya, di Dusun Ngalihan, Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, Luqman tak seceria bocah seumurannya. Bahkan, bicara Luqman harus terbata-bata.

Barangkali, genggaman erat pada botol susu di tangan kanannya adalah sisa tenaga yang Luqman punya.

Jangankan lari kian kemari. Hanya sekadar duduk, Luqman cuma mampu bertahan selama 10 menit. "Sisanya, hanya tiduran miring saja," kata Sri Daryani, 35, ibunda Luqman, kemarin.

Istri dari Tumiyo, 43, itu, bilang, Luqman mengidap kelainan hati atau sirosis hepatis. Penyakit itu hinggap sejak Luqman lahir pada 18 Januari 2013. Bahkan, Luqman juga diketahui mengalami kelainan jantung.

"Pas usia dua tahun, Luqman sempat membaik. Sehingga waktu itu tidak berpikir untuk melakukan operasi," ungkap ibu tiga anak ini.

Dalam rentang waktu berjalan, Daryanti hanya sebatas mengantar anaknya kontrol dua pekan sekali ke RSUP Dr Sardjito untuk penyembuhan kondisi organ hati. Selain itu, juga suntik vitamin dua kali dalam sepekan.

Tak hanya vitamin, Luqman juga disarankan mengonsumsi susu yang per kalengnya seharga Rp280 ribu. Padahal, susu itu akan habis saban tiga hari. Ia tidak membayangkan jika kondisi putranya itu tak kunjung sembuh.

"Kalau dipikir, ya, sangat berat, saya sebagai suami hanya buruh bangunan lepas, istri hanya merawat anak. Pangasilan saya tidak pasti," kata Tumiyo.

Salah satu langkah penyembuhan adalah cangkok hati. Tumiyo dan istrinya bukan tidak mau. Dia rela memberikan livernya pada si buah hati.

"Biayanya Rp1,5 miliar," katanya. Uang itu, kata Tumiyo mengutip orang rumah sakit, adalah sebagian dana yang harus dikeluarkan dirinya. Sebab, ada sebagian yang ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

"Walaupun dibantu BPJS, tetap berat. Apalagi dua anak saya masih harus sekolah. Semoga ada yang membantu pembiayaan," tutur Tumiyo.


(SAN)