Rantai Kekerasan Anak Harus Diputus

Pythag Kurniati    •    Sabtu, 26 Nov 2016 13:57 WIB
kekerasan anak
Rantai Kekerasan Anak Harus Diputus
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise (tengah) di Karanganyar, Jumat (25/11/2016)

Metrotvnews.com, Karanganyar: Memutuskan mata rantai kekerasan pada anak harus menjadi fokus pekerjaan pemerintah, keluarga, dan seluruh masyarakat. Hal itu dikemukakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, saat menghadiri Diskusi Musikal Bersama Lindungi Anak (Berlian).

“Kasus kekerasan terhadap anak yang terus meningkat dari tahun ke tahun mendorong komitmen kita untuk memutuskan mata rantai kekerasan. Rumah tangga harus zero violence,” kata Yohana, di Gedung Wanita, Kabupaten Karanganyar, Jumat (25/11/2016).

Seperti diketahui beberapa waktu terakhir beberapa kasus kekerasan terhadap anak kembali terjadi. Antara lain kekerasan tehadap JM, balita berumur 1,5 tahun, di Bantul, Yogyakarta. Tak hanya itu, seorang balita di Palembang juga meninggal dunia diduga karena tindak kekerasan ibunya.

Hal ini menjadi perhatian serius Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak. “Indonesia negara yang telah meratifikasi konvensi tentang hak-hak anak. Yang tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990,” kata dia. Sehingga, perlindungan terhadap anak menjadi hal wajib.

Ia merinci, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kekerasan anak, yakni menghindari pendekatan kekerasan dalam mendidik, memperkuat peran keluarga dengan membangun komunikasi, meningkatkan mekanisme penegakan hukum, mengoptimalkan peran pendidik dalam mencegah kekerasan, serta membekali anak dengan pemahaman.
 
Tanggapi Tawuran SD

Pada kesempatan itu, Yohana juga menanggapi tawuran antarsiswa sekolah dasar di Semarang, Jawa Tengah. Menurutnya, aksi kekerasan itu dipengaruhi perkembangan teknologi. 

“Kalau sampai bawa senjata tajam mungkin saja anak-anak terpengaruh games-games, film atau media sosial,” ujar dia.

Kementerian PP dan PA, lanjutnya, akan menerjunkan satgas dari pusat pelayanan terpadu perempuan dan anak untuk ikut mengawal kasus itu.

“Satgas akan kami kerahkan untuk bisa mendatangi keluarga yang memiliki anak-anak itu. Kami lebih menyasar ke parenting. Karena, keluaga memiliki tanggung jawab untuk menjaga anak-anak mereka,” kata Yohana.

Siswa di tiga sekolah dasar di Semarang terlibat tawuran. Lebih memprihatinkan lagi, siswa-siswa di bawah umur itu membawa senjata tajam. Dua siswa yang mengikuti tawuran ditangkap dan dibawa ke Mapolsek Semarang Tengah.


(UWA)