Ekohidrologi Solusi Atasi Krisis Air di Yogyakarta

Patricia Vicka    •    Rabu, 12 Oct 2016 14:58 WIB
krisis air
Ekohidrologi Solusi Atasi Krisis Air di Yogyakarta
Ratusan pemukiman padat penduduk berderet di bantaran Kali Code Kota Yogyakarta, Sabtu (19/11/2011). Foto: Antara/Regina Safri

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) perlu membuat desain besar pengelolaan sumber daya air berbasis pendekatan ekohidrologi. Penyebabnya, kualitas sumber air di DIY semakin menurun dan menyempit akibat pembangunan hotel dan apatermen, termasuk perubahan tata guna lahan dari pertanian menjadi nonpertanian. 

Direktur Eksekutif Asia Pacific Center for Ecohydrology (APCE) UNESCO, Ignasius Dwi Atmana Sutapa, menjelaskan pendekatan ekohidrologi adalah pendekatan yang mengintegrasikan teknologi, inovasi, serta kearifan lokal masyarakat mengelola air yang berkualitas. 

"Menyelesaikan permasalahan air tidak bisa dilakukan sektoral. Perlu ada integrasi antara pemerintah, masyarakat, dan pembuat kebijakan (DPRD) dengan membuat suatu grand design yang menawarkan solusi berkelanjutan," kata dia, dalam seminar Best Practice of Suitainable Water Resource Management based on Ecohydrology approach, di Yogyakarta, Rabu (12/10/2016). 

Sebagai gambaran, APCE sudah membangun demosite yang mengaplikasikan pendekatan ekohidrologi di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Waduk Saguling di Kecamatan Cililin, Bandung, Jawa Barat. Demosite ini menjadi proyek percontohan peningkatan kualitas air berbasis pendekatan ekohidrologi di Indonesia. 


Waduk Saguling di Bandung, Jawa Barat, tampak dari atas, Rabu (4/7/2012). Foto: Antara/Rosa Panggabean

Ignasius menjelaskan, dalam demosite, dipasang alat untuk memantau kualitas air dalam waduk secara daring. Untuk dapat meningkatkan kualitas air, ditanam pula tumbuhan yang mampu meningkatkan kualitas air. Masyarakat sekitar diminta mengelola dan menjaga kualitas air melalui pendekatan kearifan lokal. 

"Demosite ini baru saja diresmikan akhir September ini. Kalau berhasil akan dicoba di tempat lain," tuturnya. 

Ia berharap pemerintah Yogyakarta bisa mencontoh program ini dan mengaplilkasikannya. Sumber air yang paling penting untuk diperbaiki berada di DAS Kali Code Kota Yogyakarta. "DAS Kali Code itu paling mengkhawatirkan kualitas airnya," kata dia.

Pemerintah Yogyakarta juga diminta membangun sistem informasi sumber daya air permukaan dan air bawah permukaan yang bisa diakses masyarakat. 

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Rani Sjamsinarsih mengakui rumitnya persoalan air di Kota Yogyakarta. Urbanisasi dinilai memberi dampak pada keberadaan air. 

"Pemerintah kini tengah berupaya mngintegrasikan 5K yakni keraton, keprajan (pemerintahan), kampus, kampung, dan komunitas, untuk mengelola air. Contohnya di DIY sudah tumbuh komunitas pemerhati air dan penjaga air," kata Kepala Dinas PUPR DIY ini.



(UWA)