Perjuangan Warga Grobogan Mendapatkan Air Bersih

Ahmad Mustaqim    •    Kamis, 28 Sep 2017 11:42 WIB
kemarau dan kekeringan
Perjuangan Warga Grobogan Mendapatkan Air Bersih
Yeni Puspita saat mengambil air bersih dari saluran yang dibuat Badan Pengelola Sarana Penyedia Air Minum dan Sanitasi (BPSPAMs) -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Grobogan: Para perempuan di Dusun Mojolegi, Desa Bandungharjo, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Jawa Tengah, harus bergulat mendapatkan air bersih saat musim kemarau. Hal ini biasa karena para perempuan memang bertugas memenuhi kebutuhan air, sementara laki-laki bekerja di sawah atau sebagai buruh.

Yeni Puspita, warga Dusun Mojolegi, menuturkan, setiap kemarau harus meluangkan banyak waktu untuk sekadar mendapatkan air bersih. "Antre dua hari baru dapat air. Itu pun cuma dua jeriken yang isinya 20 liter. Kalau ingat itu, sedih sekali," kata perempuan 33 tahun ini di rumahnya, Kamis 28 September 2017.

Menurut Yeni, di Dusun Mojolegi ada 100 kepala keluarga yang kesulitan air bersih setiap kemarau tiba, termasuk dirinya. Sejumlah warga sebanrnya memiliki sumur, namun airnya selalu kering setiap musim kemarau.

"Kalau toh ada sumur yang terdapat air, harus ditempuh dengan jarak dua kilometer. Ada pula sebagian warga yang memilih membeli air dengan harga Rp120 ribu per tangki," tutur ibu dua anak ini.


Yeni Puspita menunjukkan lokasi sumur untuk mengambil air -- MTVN/Ahmad Mustaqim

Lulusan SMP di Kecamatan Tawangharjo ini mengaku, sudah sejak kecil mengalami kesulitan air. Ia pun pernah harus antre mendapatkan air hingga malam hari.

Bekas hitam melekat di pinggul Yeni akibat sering menahan jeriken beriai air. Bahkan, Yeni pernah harus menggotong jeriken berisi air bersih saat mengandung. Beruntung, jarak tempuhnya tak sampai satu kilometer.

"Saya masih ambil air sampai usia kandungan delapan bulan," kata dia.

Istri dari Lulus Priyo Sudianto ini bersyukur, masih diberi kesehatan. Apalagi, kini Yeni sedang hamil anak ketiga.

Sekarang, Yeni tak lagi harus mengangkat jeriken saat hamil. Sejak Juli 2016, Pemerintah Desa Bandungharjo membuat Badan Pengelola Sarana Penyedia Air Minum dan Sanitasi (BPSPAMs).

"Kalau sekarang air tinggal mutar kran saja," kata Yeni sambil tersenyum.

Kepala Desa Bandungharjo Suwadi mengatakan, sebagian besar warganya sudah bergabung dengan BPSPAMs. Syarat bergabung BPSPAMs yakni membayar Rp1,4 juta yang bisa diangsur Rp352 ribu per bulan. BPSPAMs tersebut bekerja sama dengan Bank Kredit Kecamatan (BKK) setempat.

Sumber air berasal dari sumur bor yang memiliki debit air hingga 2.500 per meter kubik. Kedalaman sumur bor hingga 80 meter.

"Biaya per bulannya rata-rata warga habis Rp30 ribu. Jika lebih dari 10 meter kubik, jadi dihitung Rp4 ribu per meter kubik," ucapnya.

Untuk menjaga sumber air, pihaknya meminta warga tak melakukan penebangan pohon besar sembarangan. Suwadi berencana membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) lewat saluran air yang mengalir dengan jarak dua kilometer itu.


(NIN)