Warga Kota Yogya Siapkan Sumur Pemanen Air Hujan

Ahmad Mustaqim    •    Rabu, 20 Sep 2017 16:16 WIB
kemarau dan kekeringan
Warga Kota Yogya Siapkan Sumur Pemanen Air Hujan
Herman menunjukkan replika mini Sumur Penampungan Air Hujan, MTVN - Ahmad Mustaqim

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Warga Kota Yogyakarta menyiapkan sumur resapan untuk menanam sekaligus memanen air hujan. Sumur itu dibuat warga Kampung Bangirejo, Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. 

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Karangwaru, K Herman Setiawan mengatakan awal mula rencana pembuatan sumur itu muncul atas kegelisahan warga yang merasa kondisi air tanah di Yogyakarta menurun tiap tahun. Mengingat, pesatnya pembangunan hotel dan apartemen di Yogyakarta yang menggunakan bahan baku air tanah.

Hal ini diperkuat dengan Geolog Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno yang pernah menyatakan kondisi muka air tanah di Kota Yogyakarta menurun 15-50 sentimeter tiap tahunnya. 

"Kita itu kan memanen air hampir tiap hari. Jadi air yang masuk ke dalam tanah itu tidak banyak karena saluran air di Kota Yogyakarta ini banyak dibuang ke luar, seperti ke Bantul," kata Herman kepada Metrotvnews.com di kediamannya Kampung Bangirejo pada Rabu, 20 September 2017. 

Ia menjelaskan, gagasan pembuatan sumur resapan air hujan disiapkan sekitar dua bulan. Melakukan pertemuan sekali, selebihnya Herman dan warga membuat persiapan konsep teknis pembuatan sumur. Herman menyebutnya sebagai Sumur Penampungan Air Hujan (SPAH) Segoro Amarto. Pembuatan SPAH bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta. 

Secara garis besar, ia menjelaskan, sumur dibuat di dekat jalan warga dengan lubang diameter 80X40 sentimeter dan kedalaman 2,5 meter. Di lubang sumur itu kemudian dibor hingga kedalaman 6 meter. Estimasi biaya pembuatan SPAH menghabiskan Rp4 juta. 

Secara teknis, lubang sumur nanti akan teraliri air dari saluran drainase pembuangan air hujan. Saat sumur terisi penuh, air lalu masuk ke dalam tanah melalui sumur bor yang dibuat dengan kedalaman enam meter tersebut. 

"Sumur bor ini kita beri pipa ukuran enam dim, artinya cukup besar. Lumpur atau pasir nanti tersaring dan airnya masuk ke dalam tanah. Air yang meresap akan masuk ke sumur-sumur warga. Pembuatan sumur kita lakukan dengan swadaya," ujar Ketua RW 11 Kampung Bangirejo ini. 

Sebagai langkah awal, warga akan membuat empat unit sumur. Tiga sumur berasal dari swadaya warga, dan satu sumur merupakan bantuan Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti. 

Saat ini, sumur bantuan dari wali kota sudah dibuat. "Yang sumur swadaya warga masih nunggu tukang. Sumur akan kami buat waktu-waktu ini," ucapnya. 

Herman menyatakan warga memperkirakan membutuhkan SPAH sebanyak 108 unit. SPAH akan dibangun bertahap di sebanyak 13 RT di dalam tiga RW Kampung Bangirejo. Tiap SPAH akan dibuat dengan jarak minimal lima meter. 

Ia menegaskan pembuatan SPAH ini sebagai langkah antisipasi jangan sampai warga kekurangan air tanah. Meskipun, musim kemarau saat ini warga tak mengalami kekurangan air di sumur masing-masing. 

"Masih relatif aman, awal pemikiran pembauatan SPAH hanya untuk ke depan agar tidak menyusul daerah lain (kekurangan air)," ujarnya. 



(RRN)