Tulang Diduga Manusia Modern hingga Gajah Asia Ditemukan di Gua Braholo

Ahmad Mustaqim    •    Jumat, 27 Oct 2017 12:33 WIB
situs sejarah
Tulang Diduga Manusia Modern hingga Gajah Asia Ditemukan di Gua Braholo
Sejumlah warga setepat membantu proses ekskavasi di Gua Baholo. MTVN/Mustaqim

Metrotvnews.com, Gunungkidul: Sejumlah arkeolog dari Arkeologi Nasional (Arkenas) menemukan tulang diduga tulang manusia modern, serta gajah Asia di situs Gua Braholo di Dusun Semugih, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Kabuaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Temuan itu diketahui setelah dilakukan penggalian beberapa titik di Gua Braholo. Hingga kini, sejumlah arkeolog bersama warga setempat masih melakukan ekskavasi di Goa Braholo. 

Peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Thomas Sutikna, mengatakan, ekskavasi di Gua Braholo sudah dilakukan sejak tahun 1996 hinga 2001. Saat itu sudah ditemukan berbagai benda dan kerangka manusia. Temuan-temuan tersebut terpampang dalam sebuah papan pengumuman di pinggir jalan menuju pintu masuk gua. 

Dalam papan tersebut tertulis ekskavasi yang dipimpin Profesor Truman Simanjuntak dari pusat penelitian arkeologi Nasional Jakarta dilakukan pada 1995. Penelitian dilakukan dengan menggali dan menemukan 14 kotak ekskavasi berisi berbagai tembikar sisa biji-bijian, yang sebagian diantaranya terbakar hingga sisa fauna yang melimpah. 

Adapun penggalian dilakukan dengan kedalaman bervariasi, dari tiga hingga tujuh meter. Ekskavasi sempat dihentikan akibat terhalang blog gamping. Setelah dilakukan penggalian kembali belum lama ini masih ditemukan temuan-temuan baru. "Beberapa temuan tulang manusia, tiga diantaranya masih utuh, sisanya berupa fragmen (serpihan)," ujarnya ditemui di Gua Braholo.



Gua Braholo di Gunungkidul ini menghadap ke barat daya dengan ketinggian sekitar 357 meter dan lantai gua memiliki ketinggian 352 meter di atas permukaan laut. Sebagian posisi gua relatif datar dan miring. Kondisi lantai gua kering dengan langit-langit yang memiliki ketinggian sekitar 15 meter. Lebar ruangan sekitar 39 meter dengan panjang 30 meter. Luasan Gua Braholo diperkirakan mencapai 1.172 meter. 

Thomas memperkirakan temuan tulang itu tergolong manusia modern awal atau medio 9000 tahun lalu. Apabila dihitung memakai masehi, maka diperkirakan 7000 tahun sebelum masehi. Temuan pertama dari gua tersebut disimpan di museum di Punung, Pacitan, Jawa Timur. 

"Istilah yang digunakan bukan manusia purba, tetapi merupakan manusia modern pertama karena memiliki otak 1200 cc. Mereka bukan seperti manusia purba di (Museum) Sangiran (Sragen, Jawa Tengah), tetapi memang sudah purba," kata dia. 



Ia menjelaskan, manusia pada zaman itu sudah mengenal penguburan awal atau dikuburkan di dalam tanah. Hal ini merujuk pada jasat manusia di gua tersebut tersebut sudah dikubur di dalam tanah. Menurut dia, daya imajinasi manusia saat itu sudah tumbuh. 

"Dia mengenal art, sudah membuat manik-manik dari kerang. (Sementara manusia usia) lebih muda, diberikan bekal kubur. Kalau yang ini belum, tapi mereka sudah memperlakukan orang yang mati sudah baik dengan kakinya terlipat," jelasnya. 

Thomas juga mengungkapkan pola kehidupan manusia saat itu sudah berkelompok dan masih nomaden atau berpindah-pindah. Gua satu ke gua yang lain jadi pilihan untuk tinggal. Baginya, Gua Braholo memiliki keunikan karena penemuan jejak peninggalan yang tua hingga muda. 

"Paling muda zaman neolitikum atau sudah mengenal gerabah 2000 sampai 2500 tahun yang lalu. Kapak Batu, yang sudah dipoles," cetusnya. 

Peneliti dari Centre for Archaeological Science, University of Wollongong, Australia ini berujar manusia saat itu mencari makan dengan cara berburu hewan. Hal ini didasarkan atas penemuan tulang hewan. Dari awal, ujarnya, semakin ke dalam dilakukan pengalian semakin banyak temuannya. Misalnya yang telah ditemukan yakni pada lapisan tanah atas ada monyet ekor panjang, babi, luwak atau musang, lingsang, tikus besar dan kecil, anjing tua, serta rusa. Hewan-hewan itu diperkirakan berusia sampai umur 3000 tahun. 

Arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, Alifah mengatakan, penggalian terbaru sudah yang dilakukan sejak 9 Oktober 2017. Dari penggalian itu ditemukan ditemukan rahang, belikat rusa, hingga beberapa bagian monyet ekor panjang di salah satu lubang galian. Ada pula temuan tulang panjang yang diduga manusia. "Tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut," kata dia

Penggalian pada salah satu di dalam gua dengan kedalaman 7 meter belum ditemukan dasar gua. Hal ini dimungkinkan masih bisa ditemukan benda bersejarah. Selain dari kelompok arkeolog dari Arkenas dan Balai Arkeologi Yogakarta, beberapa mahasiswa arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta juga ikut bergabung. Peneltian ini akan selesai pada awal November 2017.


(ALB)